Budaya Tiongkok Menyatu di Masjid Cheng Ho

Metroislam.id – ‘TAAT kepada Allah tidak didasari warna kulit, suku, bahasa, dan RAS, tetapi didasari niat yang tulus, ikhas, dan sabar’. Begitu bunyi pesan yang tertulis di salah satu prasasti tertanggal 13 Oktober 2017 di area kantor Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Jawa Timur di Surabaya.

Kata ‘RAS’ tertulis pada prasasti sengaja dibuat kapital. Guratan pesan pada marmer hitam yang dituliskan Pangdam V Brawijaya saat itu, Mayjen Kustanto Widiatmoko, seolah menjadi pengingat bahwa agama tidak mengenal sekat-sekat identitas. Persatuan dalam kehidupan beragama tidak membatasi asal-usul seseorang.

Di kompleks PITI itulah berdiri Masjid Muhammad Cheng Ho atau yang lebih dikenal dengan Masjid Cheng Ho. Kehadiran prasasti marmer hitam itu menandai perayaan 15 tahun berdirinya masjid pada Oktober tahun lalu.

Terletak di jantung Kota Surabaya, Masjid Cheng Ho ialah masjid pertama di Indonesia yang bergaya arsitektur Tiongkok. Bentuk bangunan mengadopsi rupa kelenteng atau rumah peribadatan bagi penganut kepercayaan tradisional Tiongkok, yakni Tridharma.

Media Indonesia berkesempatan melancong ke masjid yang berlokasi di Jalan Gading itu, Kamis (24/5) subuh. Lokasinya hanya sekitar 1 kilometer dari Gedung Balai Kota Surabaya.

Masjid yang kental akan ornamen khas ‘Negeri Tirai Bambu’ itu dibangun sebagai bentuk penghormatan kepada Laksamana Cheng Ho, yakni pelaut muslim Tiongkok yang turut menyebarkan ajaran Islam melalui jalur perdagangan di Nusantara.

“Pendiri masjid memang sengaja membangunnya berdasarkan filosofi keterbukaan. Masjid ini terbuka untuk semua. Tidak memandang suku dan ras,” kata Ayik Fuad, salah seorang takmir Masjid Cheng Ho.

Semangat keterbukaan itu tampak terwujud dalam bangunan. Masjid tidak memiliki daun pintu. Jemaah masjid maupun pelancong yang ingin masuk ke masjid bisa keluar masuk dengan mudah.

Ukuran Masjid Cheng Ho tergolong kecil. Luasnya hanya 11 meter x 9 meter. Kapasitasnya hanya untuk sekitar 200 jemaah.

Panjang 11 meter diambil dari ukuran Kakbah saat pertama kali dibangun Nabi Ibrahim. Adapun lebar 9 meter terinspirasi dari jumlah wali yang menyebarkan Islam di tanah Jawa, yakni Wali Sanga.

Ornamen atap masjid berbentuk persegi delapan yang menyerupai sarang laba-laba. Angka delapan dianggap sebagai angka keberuntungan dalam budaya Tionghoa. Adapun sarang laba-laba merupakan ‘penyelamat’ Nabi Muhammad dari kejaran kaum kafir Quraish ketika bersembunyi di Goa Tsur.

Bentuk kubah atau atap masjid yang memiliki ornamen tiga tingkat mirip pagoda yang mempertegas unsur budaya Tiongkok dalam arsitektur Masjid Cheng Ho ini. Di ujung atap paling atas kubah masjid terpampang lafaz Allah. (Sumber : MediaIndonesia / WY)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *