Dedi Mulyadi Serukan Setop Politisasi Agama

Metroislam.id – Ketua Tim Pemenangan Jokowi-Ma’ruf Jawa Barat Dedi Mulyadi menyerukan seluruh elemen masyarakat untuk menghentikan politisasi agama. Dedi menegaskan, narasi tata cara beragama yang menghiasi pilpres kali ini sudah memasuki fase menggelikan.

“Publik membicarakan pemimpin jadi imam salat, kemudian tata cara wudhu dan baca Al-Quran. Ini kan lucu gitu loh. Kalau ini diteruskan, maka bangsa ini akan menjadi olok-olok bangsa lain,” kata Dedi dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Selasa (1/1).

Ketua DPD Golkar Jawa Barat itu menyatakan, narasi praktik keagamaan baru terlontar di Pilpres 2019. Sejarah membuktikan, narasi tersebut tidak pernah ada dalam catatan Pemilihan Presiden Indonesia sebelumnya.

“Misal begini, saat salah satu kandidat menyatakan tidak sanggup menjalani tes baca Al-Quran, publik tertawa. Saya kira narasi ini harus segera dihentikan. Ke depan, akan berakibat kontraproduktif terhadap sejarah kebangsaan di Indonesia,” tegasnya.

Dedi menuturkan, wacana ini muncul seiring dengan ketidakpercayaan publik terhadap kadar keagamaan seorang Capres 2019.
“Kalau narasi soal ketidakpercayaan ini tidak digulirkan, saya kira tidak akan ada pembicaraan soal praktik keagamaan. Tapi begini, masa sih kepemimpinan nasional terlalu mengurusi orang wudhu, ngaji dan salat?,” katanya.

Ketimbang riuh soal praktik keagamaan, Dedi mengimbau seluruh pihak yang terlibat dalam Pilpres 2019 untuk mengalihkan isu ini menuju isu lain. Ditegaskan, pembahasan tentang visi, misi, dan kinerja para calon presiden jauh lebih baik dan mencerdaskan.

“Ya, fokus saja pada pembahasan visi dan misi para capres. Kemudian, lihat juga kinerja masing-masing personal capres dan cawapres untuk bangsa ini. Itu lebih produktif dan mencerdaskan dibanding membicarakan praktik keagamaan,” katanya.

Bingkai isu pun menurut Budayawan Jawa Barat itu harus terjaga di seputar wilayah nasionalisme. Hal ini penting untuk menjaga tatanan politik kebangsaan agar tidak condong kepada salah satu agama yang dianut.

“Tatanan politik kebangsaan kita harus terjaga, nasionalisme harus dikedepankan. Kemudian, mimbar-mimbar kampanye harus terbebas dari narasi kemarahan dan kebencian,” harapnya. (sumber : beritasatu / suara pembaruan / wy)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: