FBI Curiga Donald Trump Antek Rusia

Metroislam.id – Isu intervensi Rusia pada Pilpres 2016 terus menghantui Presiden AS Donald Trump. Pekan lalu dua media menerbitkan artikel panjang mengenai penyelidikan FBI dan rahasia Trump dengan Rusia di tengah panasnya shutdown parsial. Tentu saja, suami Melania Trump itu langsung meradang.

Dalam wawancara Fox News, Trump langsung menanggapi artikel New York Times, Jumat (11/1). Berita tersebut menyebutkan bahwa FBI sedang menyelidiki apakah Trump mengancam keamanan nasional. Juga kemungkinan Trump bekerja untuk Rusia.

”Kalau Anda membaca berita itu, mereka tidak menemukan bukti apa pun. Tulisan tersebut sangat menghina,” ungkap taipan 72 tahun itu.

Menurut Trump, kabar bahwa FBI sempat meluncurkan penyelidikan beberapa hari setelah pemecatan James Comey sebagai direktur FBI Mei 2017 hanyalah hoax.

Dia menegaskan, alasan pemecatan Comey adalah ketidakbecusan dalam mengupas kasus penyelewengan surat elektronik Hillary Clinton. ”Semua sudah tahu fakta tersebut. Tanpa kolusi sama sekali,” ucapnya.

Trump juga menyebut temuan lainnya dari Washington Post. Yakni, sikap Trump yang selama ini menutupi detail pembicaraannya dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.
Bahkan, politikus Partai Republik itu dikabarkan pernah merampas catatan seorang penerjemah setelah pertemuan resmi di sela-sela KTT G20 Kota Hamburg, Jerman.

”Sudah beberapa bulan sejak pertemuan mereka di Helsinki (KTT AS-Rusia tahun lalu, Red). Tapi, kami masih tak tahu apa isi pertemuan tersebut,” ujar Kepala Komite Hubungan Internasional Dewan Perwakilan AS Eliot Engel.

Soal itu, lagi-lagi Trump membantah. Dia menyatakan tak pernah menutup-nutupi pertemuan apa pun. Dia mengaku bersedia mengungkapkan dokumen pertemuan. ”Pertemuan itu sama seperti pertemuan kepala negara lain,” tegasnya.

Bantahan tersebut tak lantas membuat publik percaya. Pasalnya, sikap Trump terlalu ganjil. Strobe Talbott, mantan wakil menteri dalam negeri era Bill Clinton, tak pernah melihat presiden yang ikut campur dalam urusan laporan rapat.

”Ini jelas merugikan pejabat AS dan memberikan ruang bagi Putin untuk memanipulasi situasi,” ujar pria yang sekarang bekerja di Brookings Institution itu.

sumber : https://www.jpnn.com/ wy

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *