Kontribusi Muhammadiyah dan NU di Kehidupan Sosial dan Kebangsaan

Metroislam.id – Dua organisasi keagamaan, Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) memiliki kontribusi bagi kehidupan sosial hingga struktural bangsa Indonesia. Bukan hanya kehidupan, kedua organisasi tersebut juga ikut mengawal kehidupan bangsa yang lebih demokratis.

Kiprah dua organisasi tua Indonesia ini mencoba dibukukan oleh Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian (PSKP) Universitas Gadjah Mada (UGM). Bersama sejumlah peneliti, PSKP membuat buku berjudul ‘Dua Menyemai Damai, Peran dan Kontribusi Muhammadiyah dan NU dalam Perdamaian dan Demokrasi’.

Salah seorang penulis buku, Ali Usman mengatakan NU menempuh berbagai jalan untuk memberikan kemanfaatan untuk bangsa dan negara. Misalnya, sekolah-sekolah umum berbasis islam, hingga pondok pesantren. Ali mencontohkan kisah

Abdurrahman Wahid alias Gusdur. Ia mengatakan Gusdur sebagai salah satu representasi NU kala itu menempuh cara-cara damai dalam penanganan konflik. Salah satunya saat konflik etnis Tionghoa.

Selain itu, Gusdur juga menempuh cara damai saat mengizinkan pengibaran bendera bintang kejora di Papua asal ketinggiannya tak melebihi bendera merah putih.
“Gusdur juga pernah mengundang sastrawan terkenal Pramoedya Ananta Toer ke Istana untuk berbicara,” kata Ali saat bedah buku di Ruang Multimedia Kampus Pusat UGM, Kamis, 17 Januari 2019.

Ali menjelaskan, NU juga memiliki program mengumpulkan koin. Dengan sumbangan koin Rp100-Rp500 per orang, mereka bisa mengumpulkan puluhan juta rupiah setiap bulan.

“NU juga sudah memiliki gagasan kesetaraan gender, Islam Nusantara, hingga membuat fiqih disabilitas,” jelas Ali.

Disamping itu, NU juga dinilai terlibat dalam cipta perdamaian dengan ikut menjaga rumah ibadah, hingga dunia internasional. Tokoh NU juga pernah menjadi pembicara dalam konflik Palestina-Israel.

Di sisi lain, Muhammadiyah pun tak jauh beda. Organisasi yang didirikan KH Ahmad Dahlan ini dinilai memiliki keunggulan di bidang pendidikan umum dan kesehatan. Muhammadiyah juga berkontribusi hampir serupa dengan NU.

“(Muhammadiyah dan NU) ini harus diapresiasi lebih luas. Tanpa peran keduanya, kebangsaan tak bisa berjalan baik, dalam level struktural hingga kultural,” kata Ketua PSKP UGM, Najib Azca.

Najib mengatakan keduanya juga menjadi kekuatan dalam narasi global. Mereka menunjukkan islam dan perdamaian berdampingan di tengah sektarian dan anarkisme yang mengglobal.

Peneliti Islam Indonesia asal Universitas Boston Amerika Serikat, Profesor Robert W Hefner mengatakan, keberadaan buku tentang Muhammadiyah dan NU saat ini sangat tepat. Robert mengatakan kedua organisasi ini yang semula sering diabaikan dalam perwujudan kebangsaan Indonesia, namun kini mulai banyak diperhatikan.

Robert menyebut, penduduk di negaranya banyak yang membicarakan bangsa Indonesia sebagai bangsa majemuk dan toleran. “Semula orang Indonesia itu siapa. Sekarang mulai diketahui. Lewat internet dan negara mayoritas muslim,” kata dia.

Robert juga menuturkan, tanpa kedua organisasi itu, gagasan demokrasi akan sulit dibuktikan. Ia menyebut, dua organisasi berbasis keagamaan ini proyek kebangsaan yang menerima orang dari semua suku, dan etnisitas. “Orang Indonesia sangat istimewa untuk dunia ini,” pungkas Robert.

sumber : https://nusantara.medcom.id/ wy

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *