Gaza, Simbol Perlawanan Palestina

Metroislam.id – Iran menjadikan tanggal 29 Day yang bertepatan dengan 19 Januari sebagai “Hari Gaza, Simbol Perlawanan Palestina”. Langkah ini dilakukan Iran untuk menunjukkan keseriusan negara ini dalam mendukung perjuangan Palestina menghadapi rezim Zionis Israel.

Masuknya hari Gaza dalam penanggalan nasional Iran mempertegas langkah negara ini yang bertahun-tahun sejak kemenangan Revolusi Islam sudah memperlihatkan komitmen dukungannya terhadap Palestina.

Dipilihnya tanggal 19 Januari berkaitan dengan momentum penting ketegaran bangsa Palestina menghadapi agresi rezim Zionis Israel dalam perang 22 hari. Perang yang tidak seimbang ini dimenangkan oleh Palestina, padahal rezim Zionis telah mengerahkan seluruh kekuatan militernya hingga penggunaan perangkat militer yang paling canggih. Kekalahan memalukan bagi Israel ini dicatat dalam sejarah.

Tanggal 19 Januari adalah hari terakhir perang 22 hari di Gaza yang dimulai sejak 27 September 2008. Kemenangan bangsa Palestina dalam perang ini menjadi modal penting untuk menghadapi berbagai agresi militer Israel lainnya seperti perang delapan hari di tahun 2012, perang 50 hari 2014, dan perang dua hari 2018.

Rezim Zionis mengerahkan berbagai cara demi mewujudkan ambisinya, termasuk menyulut perang 22 hari di Gaza. Tapi perlawanan bangsa Palestina berhasil menggagalkan tujuan Israel tersebut.

Israel membombardir Gaza dari berbagai arah; laut, darat dan udara. Namun tetap gagal mewujudkan tujuannya. Akhirnya rezim Zionis terpaksa mundur dan mengakhir perang tersebut.

Di akhir perang, organisasi internasional dan publik dunia menyebut Israel sebagai penjahat perang dengan deretan kejahatan seperti penyerangan terhadap permukiman penduduk, sekolah, kerumunan massa, infrastruktur ekonomi dan sosial Gaza. Tidak hanya itu, rezim Zionis juga menggunakan senjata terlarang seperti bom cluster.

Dicanangkannya tanggal 19 Januari sebagai langkah pemerintah Iran untuk mengingatkan rakyat di negaranya dan publik dunia supaya tidak melupakan perjuangan bangsa Palestina

Sebagaimana penamaan Jumat terakhir di bulan suci Ramadhan sebagai “Hari Quds Sedunia”, penyebutan tanggal 19 Januari sebagai hari Gaza demi mengingatkan semua kalangan mengenai resistensi Palestina dalam menghadapi rezim Zionis.

Pengaruh perang 22 hari dan kekalahan rezim Zionis dalam perang tersebut memberikan dampak signifikan terhadap berbagai peristiwa selanjutnya. Selain kemenangan yang diraih bangsa Palestina dalam perang berikutnya menghadapi rezim Zionis, kekuatan gerakan perlawanan juga semakin meningkat. Sebaliknya Israel semakin melemah baik di tingkat diplomatik maupun militer.

Dalam kondisi demikian, Presiden AS, Donald Trump mencanangkan wacana pemindahan kedutaan besar AS dari Tel Aviv ke Baitul Maqdis. Tapi langkah tersebut tidak memperoleh sambutan sangat dari publik dunia. Faktanya sangat sedikit negara yang mengamini langkah Trump tersebut.

Di arena internasional, pengakuan terhadap Palestina semakin tinggi, termasuk di kalangan negara Eropa yang selama ini menjadi pendukung rezim Zionis.

Pada tanggal 29 November 2012, Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa mengesahkan sebuah resolusi mengubah status “entitas” Palestina menjadi “negara pengamat bukan anggota” dengan hasil pemungutan suara 138 banding 9, dan 41 abstain.

Pada tanggal 14 September 2015, 137 dari 193 negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa dan dua negara bukan anggota yang telah mengakui Negara Palestina. Presentase dari pengakuan terhadap Palestina oleh negara-negara anggota PBB sebesar lebih dari 70 persen.

Sebaliknya gelombang kecaman publik dunia terus mengalir terhadap Israel. Majelis Umum PBB pada Rabu (13/6/2018) meloloskan resolusi mengecam Israel atas tindakan kekerasan terhadap warga Palestina di Gaza dengan 120 negara mendukung.

Rancangan resolusi ini menyesalkan tindakan Israel yang dianggap telah menggunakan kekuatan berlebih dan tidak proporsional terhadap warga sipil Palestina di Gaza dan Tepi Barat. Resolusi tersebut juga mengecam militer Israel yang menewaskan hingga sedikitnya 129 warga Palestina selama aksi protes yang berujung bentrokan.

Pihak Palestina mengajukan gugatan mengenai kejahatan perang yang dilakukan rezim Zionis dalam perang 22 hari di Jalur Gaza ke Mahkamah Pidana Internasional (ICC). Pihak ICC juga menyatakan akan menyelidiki kaus kejahatan perang tersebut yang memicu kekhawatiran dari Israel dan AS sebagai pendukungnya.

Selama ini Gaza juga menjadi pusat perlawanan dan intifada Palestina yang terbukti berhasil menangkal berbagai plot rezim Zionis.

Intifada dimulai dari Gaza yang menyebar ke berbagai wilayah Palestina. Pada tahun 1987, Yitzhak Rabin yang menjabat sebagai perdana menteri rezim Zionis ketika itu menyampaikan kekhawatirnya intifada Palestina yang bermula dari Gaza. PM Israel yang tewas diteror oleh sesama Zionis sendiri mengungkapkan, “Seandainya saya bisa tidur dan setelah bangun menyaksikan Gaza sudah tenggelam ditelan lautan,”.

Saking takutnya para pejabat tinggi Israel terhadap Gaza, mereka menyebutnya sebagai bom waktu yang bisa meledak kapan saja. Mereka membombardir Gaza supaya perlawanan Palestina berhenti dan bisa ditumpas, tapi sebaliknya gerakan perlawanan Palestina justru semakin membesar.

Dari sisi militer, mitos kekuatan militer Israel yang tidak terkalahkan porak-poranda menghadapi ketangguhan bangsa Palestina sebagaimana dilakuakn dalam perang 22 hari. Sebagaimana ditegaskan oleh pejabat brigade Ezzedin alqassam, Abu Abidah yang mengatakan bahwa kemenangan Gaza sebagai pangkal dari kemenangan akhir Palestina.

Langkah Iran menjadikan 19 November sebagai hari Gaza merupakan bagian dari dukungan Republik Islam terhadap Palestina. Selain memberikan dukungan kontinyu terhadap Palestina dengan berbagai bentuk, Iran juga menggelar berbagai seminar dan melakukan diplomasi dengan negara lain untuk memperkuat posisi Palestina di tingkat dunia.

Kini, semua pihak dari berbagai kalangan di dunia memiliki tanggung jawab untuk mendukung perjuangan Palestina yang saat ini menghadapi blokade dari berbagai arah. Blokade laut-udara, darat dan udara Gaza yang dilancarkan Isarel melanggar aturan internasional. Tapi ironisnya sebagian negara tetangga seperti Mesir justru mengamini Israel dalam implementasi blokade terhadap Gaza. Oleh karena itu kampanye internasional untuk mengingatkan publik dunia mengenai berbagai bentuk kejahatan Isarel terhadap Palestina.

Dalam situasi dan kondisi demikian, umat Islam memiliki tanggung jawab untuk bahu-membahu membela dan mendukung perjuangan Palestina, terutama mengupayakan pencabutan blokade Gaza.

Langkah yang dilakukan Iran dengan menjadikan 19 November sebagai hari Gaza sebagai langkah penting untuk mendukung Palestina, sekaligus menghadapi plot baru rezim Zionis.

sumber : parstoday

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *