Ketika Ormas Islam Diam terhadap Kelompok Radikal

Metroislam.id – Berbagai survei menunjukkan kelompok Islam garis keras (hard liner group) masih terus meningkat. Bahkan bukan hanya menjadi fenomena di perkotaan, tetapi juga sampai ke pelosok perdesaan. Salah satu pertanyaan yang sering muncul, apa peran ormas-ormas Islam?

Pertanyaan ini banyak dilancarkan para pengamat, baik di dalam maupun di luar negeri. Ada di antara mereka yang menilai ormas-ormas Islam tidak berani berbicara keluar (speak out) terhadap kelompok radikal. Mereka menghendaki kalau memang kelompok radikal dianggap tidak berdasar dari substansi ajaran Islam seharusnya ormas Islam bersikap tegas terhadap kelompok itu.

Sebetulnya sikap seperti ini sudah dilakukan oleh kelompok-kelompok moderat muslim, tetapi masih terbatas dari mereka yang sering dijuluki kelompok liberal. Belum diikuti secara terbuka oleh kelompok mainstream yang tergabung di dalam ormas-ormas Islam.

Dekade terakhir ini semakin banyak gerakan mengklaim diri sebagai kelompok ‘yang paling Islam’. Mulai yang bercorak radikal sampai kepada yang bercorak liberal. Kelompok-kelompok yang aktif melakukan klaim ini sesungguhnya minoritas, tetapi gerakannya bernilai news maka eskalasi opininya lebih luas.

Kelompok ini sangat kritis terhadap perkembangan umat Islam. Sementara kelompok mayoritas atau mainstream muslim lebih banyak memilih diam, makanya sering disebut silent majority.

Gerakan Islam selalu menarik perhatian publik dengan beragam kepentingan. Dekade terakhir muncul berbagai tren klaim Islam. Dari kepentingan ideologi, sosial, politik, akademik, sampai kepentingan ekonomi.

Pondok pesantren, ormas Islam, termasuk tokoh-tokohnya, semakin ramai dikunjungi. Atribut Islam semakin banyak menjadi kata sifat untuk berbagai produk. Dari parpol berbasis Islam, Islamic banking, Islamic insurance, Surat-surat berharga syariah (sukuk). Lalu, unit usaha syariah, Islamic boarding school, sampai kepada halal cosmetics.

Islam yang oleh Hillary Clinton disebut sebagai the fastest-growing religion in the world dan di Indonesia menjadi penganut Islam terbesar. Ini berpotensi menempatkan Indonesia sebagai trendsetter bagi negara-negara muslim dan umat Islam lainnya.

Tampilnya berbagai gerakan yang menggunakan label Islam menarik untuk dikaji. Apakah ini pertanda datangnya fenomena awal kebangkitan global peradaban dunia Islam jilid II atau Islam hanya dijadikan sebagai komoditas dan kekuatan legitimasi untuk tujuan khusus atau sebagai reaksi logis dari pendzoliman negara-negara Islam, seperti Bosnia, Irak, Palestina, Afganistan, oleh negara-negara kuat.

Bisa juga sebagai bentuk protes terhadap ketidakberdayaan menghadapi imperialisme gaya baru negara maju atau sebagai ungkapan kekecewaan terhadap globalisasi dan industrialisasi, yang umat Islam tidak termasuk pemain utama di dalamnya. Bisa pula sebagai salah satu bentuk kesibukan dalam mengisi waktu luang, mengingat tingginya angka pengangguran dalam tubuh umat Islam.

Selain itu, bisa pula sebagai bentuk revitalisasi institusi keagamaan Islam yang sudah mulai termakan usia. Kebanyakan mereka hanya ikut-ikutan dari pengaruh figur yang menjadi sponsor sebuah gerakan atau memang betul-betul sebagai bentuk kesadaran dan semangat Islam sebagai buah dari kebebasan yang diperoleh umat Islam, yang dalam lintasan sejarahnya, dari zaman kolonial, Orde Lama, sampai paruh pertama Orde Baru, selalu dimarginalkan.

Bisa saja ini merupakan akibat dari akumulasi berbagai sebab, termasuk di antaranya government policy yang kehilangan daya menghadapi masyarakat yang semakin kritis dan cenderung kebablasan atau masyarakat yang semakin permisif menghadapi perubahan sosial, atau tokoh-tokoh mainstream muslim mengalami over silence, atau jangan-jangan takut terhadap kenekatan kelompok garis keras.

Multitafsir
Sikap ormas-ormas Islam di tengah maraknya gerakan radikalisme, khususnya aksi terorisme seperti pengeboman bunuh diri beberapa waktu lalu di Surabaya menarik dipertanyakan. Mengapa mereka seperti tidak berani speak out? Mengapa mereka membirkan kelompok minoritas “menyandera” Islam dengan mengklaim dirinya paling Islam, dan terkadang atas nama Islam melakukan sesuatu yang sesungguhnya kontraproduktif dengan Islam itu sendiri.

Satu kelompok begitu bebas memotong-motong ayat atau hadis dan melepaskan historical background-nya untuk membenarkan tujuan dan ideologi mereka. Akibatnya, antara lain, teroris melayangkan nyawa-nyawa yang tak berdosa. Mengapa mereka diam dan tidak melakukan aksi terhadap ancaman global kemanusiaan. Semisal korupsi, pemanasan global, kerusakan alam, maraknya narkoba dan HIV/AIDS, dan ketimpangan hidup global. Padahal, itu juga menjadi bagian dari esensi Islam (maqashid al-syari’ah).

Diamnya ormas-ormas Islam di tengah keresahan umat sebagai ulah kelompok radikal bisa menimbulkan multitafsir. Pertama, mereka  setuju terhadap sebagian atau seluruh tuntutan kelompok minoritas itu. Ini artinya ada konspirasi antara kelompok mayoritas dan minoritas.

Kedua, mereka tidak berdaya dan tidak berani mengambil alih klaim itu karena boleh jadi institusi Islam mainstream, seperti ormas-ormas Islam, dan tokoh-tokohnya menjadi sub-sistem terhadap sistem besar yang menyebabkan lahirnya mismanagement umat. Ini mengisyaratkan terjadinya inferiority complex kelompok mainstream.

Ketiga, karena kelompok mainstream Islam tidak tahu apa yang seharusnya dilakukan. Mereka seperti kata Clifford Geertz, kebingungan karena masa depan itu datang lebih awal melampaui kecepatan menyiapkan diri sehingga terjadi multiple shock di dalam diri mereka. Ini artinya visi kelompok minoritas dalam mempersiapkan umat masa depan lebih siap ketimbang ormas-ormas Islam mainstream.

Keempat, mereka menyadari posisinya seperti simalakama lalu menganggap diam sebagai jawaban terbaik sambil memikirkan solusi yang lebih konstruktif. Ini artinya kelompok mainstream melakukan pembiaran sejarah umat berproses tanpa panduan jelas.

Kelima, kelompok mainstream yang tergabung ormas-ormas Islam sudah cair dengan kepentingan fragmatisnya masing-masing. Yang penting diri dan keluarga mereka aman, pekerjaan dapat dipertahankan, sambil tetap memelihara kesalehan individual mereka.

Gambaran mereka tentang jihad tergantung siapa yang dihadapi. Ada kalanya mereka menggambarkan jihad secara rasional dan ada kalanya menggambarkannya secara emosional. Jika demikian adanya, itu sedang terjadi hipokritisasi di dalam tubuh ormas-ormas Islam. Hipokritas masyarakat akibatnya jauh lebih parah dari pada hipokritas individual.

Kecenderungan mainstream muslim di dalam menanggapi persoalan aktual, termasuk masalah terorisme, telah diungkapkan dalam Gallup Poll News Service (2007). Poll ini mengambil sampel 35 negara mayoritas muslim dengan puluhan ribu responden secara acak dengan metodologi khusus. Poll ini menunjukkan bahwa kelompok silent majority lebih mengharapkan kehidupan masa depan yang lebih tenang, terutama untuk mendapatkan pekerjaan yang layak.

Di Indonesia, meskipun belum ada data kuantitatif terbaru, itu mempunyai indikasi dan kecenderungan yang sama. Mereka lebih banyak menghendaki kehidupan berbangsa paralel dengan kehidupan beragama. Ini semua menjadi isyarat meningkatnya kesadaran beragama dan berbangsa mainstream muslim.

Mereka tidak lagi gampang dibakar emosinya oleh siapa pun dan untuk kepentingan apa pun. Cara-cara pemaksakan kehendak pada saatnya akan ditinggalkan oleh mainstream muslim. Namun demikian, kelompok mainstream muslim dan ormas-ormas Islam tidak boleh bersikap diam terhadap gerakan kelompok radikal.

Sumber : Media Indonesia / wy

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *