“Para Pendidik Kurang Berhasil Tanamkan Kejujuran Pada Murid”

Metroislam.id – Inti dari akhlak mulia menurut Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur KH Salahudin Wahid adalah kejujuran. Namun, ia prihatin karena faktanya para guru Indonesia kurang berhasil dalam menanamkan kejujuran ke dalam diri murid. Hal ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi para pendidik

“Survei Kompas pada pertengahan 2017 mengungkap bahwa tingkat kebohongan di kalangan pelajar atau mahasiswa tidak menggembirakan. Yang selalu jujur hanya 2,3 persen, peserta didik yang sering jujur 7,5 persen, yang kadang-kadang jujur 50,5 persen, yang sering berbohong 30,8 persen, dan yang selalu bohong 5,8 persen,” katanya di Tebuireng, Senin (28/1).

Dikatakannya, guru pertama dan guru utama bagi anak-anak adalah orang tua, sedangkan sekolah melengkapi dan berusaha memperkuat. Sayang sekali pada masa kini di kota-kota besar banyak suami dan istri harus bekerja supaya dapat memenuhi kebutuhan rumah tangga.

“Mereka berangkat pagi-pagi sekali dan sering pulang saat mendekati malam,” ujar pria yang biasa disapa Gus Sholah ini.

Cucu Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari ini mengatakan, akibat orang tua yang terlalu sibuk maka anak-anak banyak yang dititipkan kepada pembantu atau saudara. Jumlah mutu pertemuan anak dengan orangtua menjadi kurang. Orang tua tak bisa memantau perkembangan anak dan kadang sering berbohong.

“Karena sibuk, anak dititipkan kepada pembantu atau di masukan ke pesantren. Karena semua pesantren ditanamkan kejujuran dengan berbagai cara,” tambahnya

Di pesantren, yang umumnya menerima santri tamat Sekolah Dasar (SD), tanggung jawab membentuk akhlak santri beralih dari orangtua kepada pesantren, guru atau ustaz. Di dalam pesantren, murid atau santri tidak akan mengalami tawuran, amat kecil kemungkinan menjadi pecandu narkoba. Di banyak pesantren diterapkan dengan ketat larangan merokok.

“Hasil survei yang saya sebutkan tadi tentang kejujuran pemuda atau mahasiswa perlu menjadi bahan renungan sejauh mana kejujuran berhasil ditanamkan ke dalam diri santri.

Yang menjadi pertanyaan ialah bagaimana cara mempertahankan kondisi yang baik itu saat keluar dari pesantren. Itu tanda berhasil,” ungkapnya.

Adik kandung Gus Dur ini menjelaskan saat santri lulus dari pesantren dan hidup dalam lingkungan yang baru, kebebasan yang didapat, dan pengaruh masyarakat yang cukup banyak negatifnya mungkin bisa menghapus secara bertahap akhlak santri yang baik tersebut.

Di dalam lingkungan pekerjaan, terutama di dalam lembaga pemerintah, para pemuda secara perlahan mungkin akan menghadapi situasi yang bisa mengkikis kejujuran yang sudah tertanam. Kalau menjadi pengusaha rekanan pemerintah, mereka harus menyesuaikan diri dengan praktik usaha yang sering kali memasuki wilayah abu-abu.

“Di dalam lingkungan pekerjaan, terutama di dalam lembaga pemerintah, para santri secara perlahan mungkin akan menghadapi situasi yang bisa mengkikis kejujuran yang sudah tertanam. Kalau menjadi pengusaha rekanan pemerintah, mereka harus menyesuaikan diri dengan praktik usaha yang sering kali memasuki wilayah abu-abu,” tandas Gus Sholah.

sumber : NU online / wy

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *