Imlek 2019: Sentimen agama dan politik di balik penolakan perayaan

Metroislam.id – Perayaan imlek yang merupakan tradisi budaya Cina, menghadapi penolakan dari sejumlah ormas di Bogor dan Pontianak. Ada apa di balik penolakan ini?

Akhir Januari lalu, beredar surat seruan dari Forum Muslim Bogor (FMB) yang menyatakan penolakan terhadap perayaan tahun baru Imlek dan Cap Go Meh 2019.

Salah satu poin dari isi surat tertanggal 23 Januari itu adalah meminta Pemerintah Kota dan Kabupaten Bogor tidak memfasilitasi perayaan Imlek dan Cap Go Meh di wilayah Bogor, terutama yang melibatkan umat beragama lainnya.

Mereka beranggapan Imlek dan Cap Go Meh bukan sekadar tradisi etnis Cina, namun juga hari raya keagamaan, maka dari itu tidak tepat bagi pemerintah untuk mendukungnya, karena bisa mengurangi keimanan umat Islam.

Mereka juga menyerukan agar pemerintah daerah tidak mengarahkan aparatur sipil negara yang beragama Islam dan umat Muslim untuk ikut menghadiri maupun mendukung perayaan Cap Go Meh.

Menanggapi surat itu, Pemerintah Kota Bogor menegaskan bahwa perayaan Imlek dan Cap Go Meh di Kota Bogor merupakan salah satu agenda tahunan penting yang digelar untuk menggaet wisatawan.

Wali Kota Bogor, Bima Arya mengatakan, setiap tahunnya, perayaan Cap Go Meh selalu dibalut dalam pesta rakyat bertajuk Bogor Street Festival sehingga lebih mengedepankan nilai-nilai kebudayaan dan kearifan lokal.

“Kami merasa perlu untuk menyampaikan kepada publik mengenai posisi Pemkot Bogor di sini. Ini menyangkut juga atas nilai-nilai kebersamaan dan keberagaman yang diyakini oleh kita sebagai warga Bogor dari masa ke masa,” ujar Bima, pekan lalu.

Dalam surat itu, Ketua FMB Imam Syafi’i menyeru kepada pemuka dan tokoh muslim Bogor untuk menjelaskan “fakta Cap Go Meh dan bahayanya terhadap akidah umat serta keharaman umat Islam untuk menghadiri atau terlibat di dalamnya.”

Namun, menurut Arya Bima, akidah seseorang tidak bisa dinilai akan berkurang atau luntur hanya karena sebuah perayaan kebudayaan.

Penolakan terhadap perayaan Imlek dan Cap Go Meh bukan hanya terjadi di Bogor saja.

Sebelumnya, dua ormas juga menentang penyelenggaraan kegiatan Cap Go Meh di Pontianak. Mereka adalah Pemuda Pancasila (PP) Kalimantan Barat dan Kota Pontianak dan Persatuan Forum Komunikasi Pemuda Melayu (PFKPM) Kalbar.

Mereka berkukuh perayaan Imlek yang mendekati pemilu legislatif dan pemilu presiden bakal membuat situasi tidak kondusif.

Wakil ketua II MPW PP Kalimantan Barat, Uti Zulkifli mengungkapkan pihaknya khawatir perayaan Cap Go Meh yang biasanya diikuti oleh pawai, pertunjukan barongsai, dan pameran serta pentas seni itu, akan bermuara pada gangguan keamanan.

“Kegiatan Cap Go Meh akan berpotensi menyebabkan gesekan sosial dengan masyarakat yang berbudaya nasional Indonesia,” ujar Uti.

“Jika kegiatan Cap Go Meh tetap dilaksanakan di kota Pontianak, Pemuda Pancasila tidak bertanggung jawab jika ada hal-hal yang tidak diinginkan,” imbuhnya.

Namun, Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono memastikan pesta rakyat perayaan Imlek akan tetap digelar.

“Para pihak yang semula menolak sudah mendapatkan arahan dari Polresta Pontianak. Pihak kepolisian yang paling paham terhadap adanya kemungkinan gangguan Kamtibmas (keamanan dan ketertiban masyarakat,” papar Edi.

Merayakan Toleransi di Tahun Babi

Lampion merah berayun di alun angin di ruas Jalan Diponegoro, Kota Pontianak Kalimantan Barat. Persiapan Imlek 2019 telah terasa sejak bulan pertama di tahun ini.

Toko-toko yang menjual pernak pernik Imlek mulai banyak di bilangan ruas Pecinan yang lain. Dekorasi seperti bunga Mei Hwa, lampion, gantungan nanas, juga miniatur babi yang menjadi perlambang di tahun ini, tampak memenuhi etalase.

Jalan Diponegoro merupakan pusat perayaan Imlek di Pontianak. Selain itu, perayaan Pesta Cap Go Meh Street Festival kali ini dimeriahkan dengan pemasangan tiga ribu lampion di jalan-jalan utama.

Tahun ini sudah terdaftar 26 naga dan 43 barongsai yang memeriahkan festival.

Perayaan ini bukan hanya milik warga etnis Cina, tapi sudah merupakan hiburan bagi seluruh masyarakat Kota Pontianak, apapun agamanya.

Tokoh Cina Kalimantan Barat, Andreas Acui Simanjaya, mengungkapkan warga Cina biasanya memanfaatkan Imlek sebagai hari cuti besar dari aktivitas sehari-hari, saat mereka berbagi kebahagiaan dengan orang yang lebih tua. Bentuk-bentuk toleransi sebenarnya sangat kental dalam perayaan Imlek di Kota Pontianak.

“Di Punggur, di kampung saya, warga yang tidak merayakan Imlek bahkan ikut mengantarkan makanan. Ada lemang, penganan yang terbuat dari pulut (ketan),” ujar Andreas seperti dilaporkan wartawan Aseanty Pahlevi untuk BBC News Indonesia.

Biasanya, lemang atau pulut yang dibakar, berjejer di samping rumah. Bahkan, warga Tionghoa hapal siapa yang membuat lemang tersebut. Balasannya, warga Tionghoa memberikan dua buah kue keranjang, sebagai ucapan terima kasih.

Tradisi berkumpul bersama keluarga di desa ini juga dilakukan salah satu warga Pontianak, Ruth Feliani. Bersama keluarga, dia menuju sebuah desa di Kecamatan Tebas, Kabupaten Sambas.

Orangtuanya berasal dari daerah tersebut. Walau tidak merayakan Imlek, berkumpul bersama keluarga di desa sudah merupakan tradisi.

“Tradisinya adalah makan-makan bersama keluarga, dan berkunjung ke keluarga lainnya. Kurang lebih sama dengan Hari Raya Idul Fitri,” tutur Feli.

Adanya aksi penolakan perayaan Imlek beberapa bulan lalu tidak menjadi kecemasan bagi Feli dan keluarga. Ada atau tidak penolakan, perayaan Imlek tetap berlangsung, katanya.

Ini pula yang ditegaskan oleh Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono.

Menurutnya, penolakan yang diutarakan dua organisasi massa pada November tahun lalu, “cuma riak-riak saja” dan memastikan penentangan itu sudah ditangani.

Edi menyatakan, perayaan kebudayaan ini menciptakan efek domino di Kota Pontianak. Para pelaku ekonomi mikro dan menengah juga ikut mendulang keuntungan ekonomi.

Dikaitkan dengan agenda politik, Edi meyakinkan bahwa selama pihak kepolisian dapat memastikan berlangsungnya perayaan dengan aman, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Agenda politik, kata Edi, tidak serta merta membuat agenda lainnya berhenti sama sekali.

Perayaan Imlek juga merupakan upaya mempromosikan kekayaan budaya yang dimiliki Kota Pontianak. Harapannya agar dapat menarik wisatawan domestik hingga mancanegara.

Sementara itu, akhir Januari lalu, Kapolresta Pontianak, Komisaris Besar Polisi Anwar Nasir, memimpin rapat koordinasi lintas sektoral untuk persiapan Imlek dan Cap Go Meh.

Dalam menyambut Imlek, Kepolisian Daerah Kalimantan Barat menggelar operasi kewilayahan dengan sandi Operasi Liong 2019, yang melibatkan 640 personel gabungan dari unsur Polri dan TNI.

“Akan ada rekayasa Lalu Lintas, namun sebelumnya kita sosialisasikan terlebih dahulu,” katanya.

Sentimen agama dan politik

Peneliti kemasyarakatan dan kebudayaan Thung Ju-Lan dari LIPI mengatakan penolakan perayaan Imlek di beberapa daerah ini merupakan dampak dari intoleransi dan narasi politik yang bergulir setelah kasus penistaan agama yang menjerat mantan gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama.

“Ada gerakan-gerakan [intoleransi] yang baru dan terutama pengaruhnya karena pilkada DKI dengan masalah kasus Ahok,” kata Thung.

Apalagi, tambah dia, Bogor lokasinya tak jauh dari Jakarta. Sehingga gelombang intoleransi di ibu kota dengan mudah menjalar ke kota satelit itu.

Meski motif penentangan perayaan Imlek di Pontianak berbeda, namun menurut Thung, pengaruh kasus Ahok terhadap gelombang intoleransi di kota itu tak bisa dipungkiri.

“Intoleransinya itu dikaitkan dengan pemahaman yang sempit tentang beberapa konsep. Intoleransi itu, semakin kita nggak ngerti semakin tidak toleran, semakin paham kita akan semakin toleran,” kata Thung.

“Yang terjadi sekarang terlalu banyak hal yang muncul dan tidak dipahami [soal Imlek], karena selama ini sudah salah kaprah,” imbuhnya.

Merespon adanya pihak yang menentang perayaan Imlek, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin meminta semua pihak untuk saling menghargai antarumat beragama.

Dia mengatakan, perayaan Imlek dan Cap Go Meh selama ini diyakini secara beragam oleh umat beragama di Indonesia.

Ada yang meyakini itu bagian dari tradisi perayaan yang sifatnya budaya, ada pula yang menyakini itu bagian dari kepercayaan atau agama.

“Terlepas apa pun pemahaman orang terhadap perayaan seperti itu, saya mengajak semua untuk saling menghargai, menghormati, tradisi yang sudah sudah cukup lama ada di tengah-tengah kita,” papar Lukman.

Bentuk penghargaan dan penghormatan terhadap yang berbeda kepercayaan, menurut Lukman, sama sekali tidak mereduksi keimanan seseorang.

“Justru sebaliknya, karena kita mengimani ajaran agama kita. Ajaran kita mengajarkan untuk menghormati keyakinan yang berbeda dengan kita. Maka bentuk penghormatan seperti itu bukan pembenaran, tapi pengamalan ajaran kita karena dituntut untuk menghormati dan menghargai keyakinan atau kepercayaan orang lain yang berbeda,” cetusnya.

sumber : www.bbc.com/ wy

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *