Seruan Toleransi untuk Kedamaian

Metroislam.id – Seruan perdamaian antarnegara, agama, dan ras dikumandangkan dari Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA), Senin (4/2) waktu setempat.

Adalah Imam Besar Al-Azhar Syekh Ahmed al-Tayeb dan Paus Fransiskus yang menandatangani deklarasi bersejarah itu dengan disaksikan perwakilan pemeluk Kristen, Islam, Judaisme, dan agama lain.

“Keimanan menuntun seorang pemeluk agama untuk orang lain sebagai saudara yang harus dicintai,” demikian bunyi deklarasi seperti dikutip dari laman UPI, kemarin.

Inti dari dokumen tersebut ialah toleransi yang perlu diserukan kepada seluruh pemimpin dunia untuk menepis ekstremisme.

Imam Besar Al-Azhar, Syekh Tayeb, meminta umat Islam di Timur Tengah merangkul komunitas Kristen setempat. “Terus rangkul saudara Anda warga Kristen di mana pun berada karena mereka ialah mitra kita di negara ini.”

Pada awal pidatonya, Syekh Tayeb menyebut Paus sebagai ‘Saudaraku tercinta’.

Dia pun menyayangkan masih adanya penilaian bahwa sebagian muslim ialah barbar brutal karena banyaknya teror yang mengatasnamakan Islam. “Semua agama sepakat Tuhan melarang pembu­nuhan.”

Paus, dalam pidatonya selama 26 menit, pun tidak lupa mengimbau diakhirinya perang di Timur Tengah. “Semua pemimpin memiliki tugas menolak setiap kemungkinan terjadinya perang dunia.”

Setiba di Abu Dhabi, Paus disambut Putra Mahkota UEA Syekh Mohammed bin Zayed An-Nahyan. Paus pun ­beraudiensi dengan pemuka muslim dan merayakan misa terbuka bagi 135 ribu umat Katolik di Semenanjung Arab.

Sentimen komunal
Dalam menanggapi deklarasi perdamaian itu, Ketua PBNU Marsudi Syuhud mengakui selama ini dalam menebarkan pesan damai kita kerap berhenti pada penyampaian.

“Padahal ajaran seluruh agama membawa kedamaian. Kedua tokoh besar agama itu berharap deklarasi perdamai-an diamalkan, bukan sekadar ilmu,” kata Marsudi.

Menurut Marsudi, pada momentum tahun politik di Indonesia umat Islam harus kembali ke rujukan utama, yakni Alquran. “Saya pribadi dan Ketua NU tidak berhenti meng­ajak kita semua damai.”

Senada dengan Sekretaris PP Muhammadiyah, Abdul Mu’ti, yang mengatakan deklarasi damai antarnegara, ras, dan agama yang ditandatangani Paus dan Syekh Tayeb berdampak signifikan dalam tataran kehidupan antarumat beragama di dunia.

“Deklarasi akan meningkatkan hubungan antara umat Islam dan umat Kristen khususnya umat Katolik dunia. Di kancah global deklarasi ini juga menimbulkan spirit perdamaian antara Timur dan Barat. Bagi Indonesia menjadi inspirasi agar perhelatan politik berlangsung aman, damai, tertib, dan lancar,” tandas Mu’ti.

Sekretaris Eksekutif Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Siprianus Hormat, menilai deklarasi perdamaian antarnegara, agama, dan ras amat relevan dalam konteks Indonesia yang akhir-akhir ini mengalami kerenggangan sosial akibat merebaknya sentimen komunal.

“Entitas Indonesia ialah keberagaman. Saya berharap umat beragama di Indonesia terinspirasi dan menghentikan segala bentuk kecurigaan dan kebencian atas nama agama,” kata Siprianus. (Wil/Faj/Dhk/Ant/X-3)

Sumber : Media Indonesia / wy

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *