Gus Yusuf Minta Polemik Salah Doa Mbah Moen Tak Diperpanjang

Metroislam.id – Ketua DPW Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhammad Yusuf Chudlori meminta segala perdebatan soal doa kiai kharismatik K.H. Maimoen Zubair tak diperpanjang lagi. Pria yang karib disapa Gus Yusuf itu meminta semua khalayak memakluminya.

“Mbah Maimun itu kan kiai sepuh, usia sudah 90 tahun. Kalau ada terpeleset lidahnya, itu hal yang sangat manusiawi. Toh beliau sudah meralat juga. Saya rasa sudah selesai,” katanya saat dihubungi, Kamis (7/2).

Sampai di situ, kata Gus Yusuf, seharusnya sudah tidak ada persoalan. “Jangan diperpanjang, apalagi muncul perdebatan, puisi yang mengolok-olok, terus ada meme. Yang juga, ya melecehkan. Itu yang kemudian menjadikan santri-santri tidak terima di situ,” lanjutnya.

Terlebih, Pengasuh Ponpes API Tegalrejo ini tak memandang Mbah Moen sebagai elite partai. Namun, sebagai sesepuh Nahdlatul Ulama (NU) dan kiai pesantren. Untuk itulah, Gus Yusuf menganggap sosok Mbah Moen sudah sepantasnya dihormati.

Gus Yusuf meyakini bahwa tak hanya dirinya yang beranggapan demikian. Para santri menurutnya, pasti bisa memahami atau memaklumi kejadian ini.

‎Sekadar informasi, beredar sebuah video berdurasi 38 detik memperlihatkan Mbah Moen tengah memanjatkan doa. Namun, yang didoakan menjadi pemimpin bukanlah Joko Widodo, sang petahana. Melainkan Prabowo Subianto, sang penantang.

Banyak yang beranggapan video itu telah diedit sedemikian rupa. Lainnya, menilai bahwa itu merupakan sebuah pertanda. Yang jelas, hal ini kemudian menuai beragam reaksi. Seperti salah satunya Fadli Zon yang membuat puisi berjudul ‘Doa yang Ditukar’.

“Tidak elok ya kalau dipolitisasi. Kita kembalikan ke niat, istilahnya, pemintanya (doa) saja. Niat, tujuan, dan hatinya,” katanya lagi.

Terlepas dari itu semua, Gus Yusuf meyakini jika adanya hal ini tak lantas menggerus elektabilitas Joko Widodo. Karena selain melihat sosok keterpihakan eks Wali Kota Solo itu kepada masyarakat pesantren, ada figur KH. Ma’ruf Amin sebagai calon wakil presidennya.

“Terutama di kalangan warga Nahdliyin, banyak kiai dan santri di kampung-kampung, itu melihatnya juga ke Kiai Ma’ruf. Beliau adalah istilahnya orang tuanya. Kalau bapaknya yang nyalon, santri-santri, umatnya ikut. Itu otomatis. Jadi tak akan berpengaruh banyak,” tegasnya.

Sumber : jawapos / wy

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *