Kemenag Kumpulkan Tokoh, Diskusi Persoalan Keagamaan di Indonesia

Metroislam.id – Selang hamir dua bulan dari gelaran Dialog Lintas Iman yang digagas Kementerian Agama dengan melahirkan lima rumusan ‘Risalah Jakarta’ di penghujung 2018 lalu, Kementerian Agama kembali menggelar diskusi lanjutan. Diskusi yang dihadiri ‘alumni Ancol’ berlangsung di kediaman rumah dinas Menag, Komplek Widya Chandra, Jakarta, Jumat (8/02).

Mengenakan sarung motif batik dengan padanan baju koko putih, Menag Lukman Hakim Saifuddin memulai diskusi dengan pembahasan hal ihwal kehidupan keagamaan, perlindungan umat beragama, kasus penodaan agama hingga menyatukan definisi agama bagi negara.

“Kami di Kemenag banyak sekali memerlukan masukan terkait dengan hal ihwal kehidupan keagamaan”, ujar Menag.

Diskusi yang menjadi inisatif pertemuan Ancol ini dipandu Alissa Wahid. Hadir dalam diskusi, para tokoh agamawan, budayawan, praktisi hukum, peneliti, seniman dan pejabat Kemenag.

Menurut Menag, negara wajib punya definisi tentang agama agar bisa memberi jaminan kemerdekaan memeluk dan menjalankan agama kepada pemeluknya.

“Apa itu pokok agama, siapa yang berhak menyatakan pokok pokok agama bila disebut menyimpang atau tidak menyimpang. Sejak dua tahun lalu kami di Kementerian Agama serius menyusun rencana Undang Undang Perlindungan Umat Beragama untuk menjawab kekosongan tersebut,” kata Menag.

Dialog pun berlangsung interaktif di mana masing-masing peserta yang berasal dari ragam latar belakang mengemukakan pendapat terkait hal ihwal kehidupan keagaman di Indonesia. Dalam kesempatan tersebut, Menag Lukman Hakim pun lebih banyak mendengar pandangan-pandangan dari peserta diskusi.

Ketua Pengurus YLBHI 2017-2021, Asfinawati menjadi sosok yang diberi kesempatan kali pertama untuk memaparkan prolog dan kronologi dari sejumlah kasus penodaan agama yang pernah terjadi di berbagai daerah di Indonesia.

Wanita kelahiran Sulawesi Utara ini menilai sejumlah kasus penodaan agama yang pernah dikawalnya sampai ke meja hijau tidak memiliki alas hukum yang jelas terkait materi pokok kasus penodaan atau pelecehan agama.

Usai Asfinawati, hampir semua peserta diskusi pun memberikan pendapat tentang ragam persoalan hal ihwal keagamaan di Indonesia. Di antaranya: Ulil Abshar Abdalla, Usman Hamid, Bhikku Jayamedo, Roma Magnis, komedian Arie Kriting hingga Haidar Baqir pun ikut memberikan pandangan hal ihwal keagamaan di Indonesia dari berbagai ragam sudut pandang.

Alissa Wahid mengatakan gelaran diskusi yang bisa disebut ‘alumni Ancol’ ini juga menjadi ajang reunian yang terbuka dalam mengemukakan pandangan dan pendapat.

“Saya senang sekali diskusi ini berjalan penuh semangat, saling mendengar dan saling belajar. Tidak ada saling menyerang dan menjatuhkan dalam diskusi ini. Terima kasih kepada Menteri Agama yang sudah memberikan ruang diskusi ini,” kata Alissa Wahid.

Gelaran diskusi yang berlangsung lebih kurang empat jam tersebut penuh canda dan keakraban. Malah Menag beberapa kali bergeser bebas memilih tempat duduk bersama para alumni Ancol.

sumber : kemenag / wy

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *