Makna Kunjungan Paus ke Uni Emirat Arab

Metroislam.id – Paus Fransiskus baru mencetak sejarah lewat kunjungan perdana ke semenanjung Arab, tepatnya ke Uni Emirat Arab (3-5 Februari). Krisis kemanusiaan di Yaman dan dialog dengan Islam menjadi isu yang paling disorot dalam kunjungan tersebut.

Beliau menyebut kunjungannya ke negara Arab tersebut sebagai sebuah kesempatan untuk membuka lembaran baru dalam hubungan antaragama, khususnya antara Kristen dan Islam. Kunjungan Paus kali ini mengingatkan kita pada kunjungan orang suci asal Italia, Fransiskus, kepada Sultan Malik al-Khamil di Mesir di abad 12 silam.

Ketika terpilih menjadi paus baru dalam sidang konklaf para kardinal, Rabu (3/3/2013), sosok kelahiran 17 Desember 1936 yang semula dikenal sebagai Kardinal Jorge Mario Borgoglio itu memilih nama Fransiskus. Menurut pakar soal Vatikan John Allen, nama Fransiskus merujuk pada salah satu tokoh yang paling dihormati di gereja Katolik, yakni Santo Fransiskus dari Asisi, yang lahir di Assisi, Italia, pada 5 Juli 1182 dan meninggal pada 3 Oktober 1226. Fransiskus ialah simbol kesederhanaan dan keberanian untuk melintas batas-batas agama (passing over) demi menjalin persaudaraan dengan semua orang.

Ketika Perang Salib tengah berkecamuk antara umat Kristen dan Islam guna memperebutkan hegemoni atas Jerusalem, Fransiskus dengan ketulusan dan kerendahan hatinya pergi menemui Sultan Malik al-Khamil di Mesir yang notabene ialah musuh gereja masa itu. Fransiskus hadir sambil mengaku diri sebagai orang Kristen. Tentu ini sebuah tindakan yang sangat berani, mengingat ketika itu gereja begitu membenci bahkan antipati pada Islam. Fransiskus membuktikan Islam ternyata cinta damai (Islam dari kata aslama, berarti damai).

Langkah yang diambil Fransiskus berhasil menginspirasi banyak pihak, terutama gereja untuk mulai membuka diri, melepaskan diri dari eksklusivisme. Gereja belajar dari kesalahannya di masa lalu dan belajar dari spirit hidup Fransiskus sehingga di zaman ini gereja punya cara pandang baru terhadap Islam.

Cara pandang gereja yang positif dan apresiatif itu bisa dilihat dalam dokumen Nostra Aetate yang merupakan salah satu hal penting dalam Konsili Vatikan II. Dalam dokumen Nostra Aetate yang diketuk pada 28 Januari 1965, gereja Katolik berani mengakui kebenaran dalam agama-agama lain. Bahkan menyangkut relasinya yang buruk di masa lalu gereja Katolik berani mengakui kesalahan. Gereja mengajak setiap umat beragama untuk ke depan lebih fokus mengusahakan saling pengertian, memajukan keadilan sosial, nilai-nilai moral, perdamaian, dan persaudaraan antarmanusia.

Teladan Nabi

Nah, cara pandang positif itu sebenarnya sudah lama menjadi sikap dan cara hidup junjungan umat Islam Nabi Muhammad SAW. Pada abad VI, Nabi sudah mengajarkan bagaimana kita harus menyikapi perbedaan agama tanpa bersikap diskriminatif terhadap orang yang berbeda agama dengan kita. Dalam hal interaksi dengan ahlul kitab, Nabi sangat terkenal dengan toleransinya. Ini bisa dilihat dari adanya Pakta Madinah.

Harold Coward juga menulis dalam bukunya, Pluralisme-Tantangan bagi Agama-Agama, bahwa ‘Muhammad memahami wahyunya sebagai kelanjutan dan pemenuhan dari tradisi alkitabiah Yahudi dan Kristen. Rasa hormat beliau terhadap tradisi alkitabiah sungguh diperlihatkan dalam ajarannya’.

Tentu rasa hormat itu tidak lepas dari sejarah. Itu terjadi misalnya ketika Nabi Muhammad mengungsikan para sahabatnya ke Raja Negus, raja Kristen negeri Habsyi atau Ethiopia. Mereka diperlakukan sangat baik dan ramah oleh sang raja.

Lepas dari berbagai kasus yang mengesankan sekarang seolah relasi antara Islam dan Kristen tengah memburuk, sebenarnya kita perlu melanjutkan spirit Nabi Muhammad atau spirit Fransiskus untuk saling mengapresiasi. Di tengah isu terorisme dan kekerasan yang kerap dikaitkan dengan Islam, mengingat di Barat gencar Islam distigmatisasi, yang memunculkan islamofobia atau ketakutan terhadap Islam, gereja Katolik justru tampil membela Islam.

Paus Fransiskus kerap menegaskan jangan menyamakan agama Islam dengan terorisme. “Itu keliru untuk menyatakan Islam terkait dengan terorisme,” kata Paus yang berbicara kepada wartawan di atas pesawat dalam penerbangan kembali dari Warsawa, Polandia, Minggu (31/7/2016), seperti dikutip Kantor Berita AFP (1/8/2016).

Memang akan dengan mudah kalangan di luar Islam, termasuk umat kristiani, tergoda untuk menyamakan agama Islam dengan terorisme. Hal seperti itulah yang diinginkan para teroris, termasuk oleh dua bomber yang diduga asal Indonesia yang menyerang gereja di Filipina pekan lalu. Dengan demikian, akan terjadi kecurigaan antaragama yang bisa memicu konflik bahkan perang. Karena itu, Paus Fransiskus tidak mau terjebak dalam agenda jahat seperti dirancang para teroris.

Relevansi

Jadi sebenarnya Paus sangat bijaksana sebab jika beliau sampai menyamakan Islam dengan terorisme, jelas akan muncul ketegangan baru di dunia. Pasti akan terjadi benturan antara mayoritas Kristen dan mayoritas Islam, dan ini bisa merusak perdamaian di dunia. Apalagi seperti sudah diungkapkan, tujuan utama para teroris dan kaum radikal memang hendak membenturkan arus utama umat Islam dan Kristen. Jadi sebagaimana Paus, umat kristiani khususnya, jangan sampai termakan jebakan atau provokasi yang mengingingkan terjadinya konflik antara umat Islam dan Kristen.

Menurut Paus, jika berbicara tentang kekerasan dalam Islam, dirinya juga harus berbicara tentang kekerasan dalam Kristen. Paus lalu membeberkan beragam kejadian masa lalu, dari zaman perbudakan hingga beragam aksi kejahatan mafia Italia.

Karena itu, kunjungan Paus ke Uni Emirat Arab juga harus dimaknai umat kristiani di mana pun, termasuk di Indonesia, untuk terus membina relasi dan kerja sama dengan umat Islam yang cinta damai dan punya kehendak baik. NKRI yang amat beragam harus dijaga keutuhannya dari segala upaya provokasi dan adu domba di tengah kian panasnya suhu politik seiring masa kampanye pilpres dan pileg kali ini.

Semoga pemilu 17 April nanti berlangsung aman. Jangan sampai negeri ini jadi mirip Yaman, yang hancur akibat perang. Spirit cinta damai dari agama Kristen dan Islam harus lebih kuat gaungnya daripada segala ujaran kebencian atau hoaks yang coba memecah belah bangsa ini.

sumber : media indonesia / wy

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *