Beberapa Keistimewaan Para Nabi

Metroislam.id – Berbilangnya para Nabi

Sampai di sini, kita telah membahas tiga masalah pokok mengenai prinsip Kenabian, dan kita sampai pada satu kesimpulan bahwa beranjak dari dangkalnya pengetahuan manusia untuk mencapai berbagai pengetahuan yang dapat menyampaikannya kepada kebahagiaan dunia dan akhirat, maka Hikmah Ilahiyah menuntut dipilihnya seorang atau beberapa nabi yang diberi berbagai ajaran dan hakikat yang penting untuk disampaikan kepada seluruh umat manusia secara utuh dan selamat dari berbagai kekaburan dan penyimpangan.

Dari sisi lain, para nabi itu dituntut menyampaikan risalahnya kepada seluruh umat sehingga hujjah menjadi leng-kap atas mereka. Cara yang terbaik dan lebih merata untuk hal ini ialah dengan memperlihatkan mukjizat. Dan kami telah membuktikan masalah tersebut melalui dalil akal. Akan tetapi dalil-dalil tersebut tidak menunjukkan banyaknya jumlah para nabi, kitab-kitab dan ajaran-ajaran samawi. Apabila kita berasumsi bahwa kondisi kehidupan umat manusia itu memungkinkan seorang Nabi untuk menerangkan apa yang mereka butuhkan sampai penghabisan alam ini, dimana setiap individu atau kelompok di sepanjang sejarah dapat mengenal tugas-tugas dan kewajibannya melalui risalah nabi tersebut, maka hal itu tidak menyimpang dari dalil-dalil. Akan tetapi, perlu kita ketahui bahwa:

Pertama: usia manusia itu –siapa pun, termasuk para nabi– terbatas. Dan hikmah diciptakannya makhluk tidak menuntut nabi yang pertama agar hidup sampai penghabisan alam untuk membimbing seluruh umat manusia seorang diri.

Kedua: bahwa situasi dan kondisi kehidupan manusia pada setiap zaman dan tempat tidaklah sama, khususnya dengan melihat adanya kesulitan yang berangsur-angsur yang me-nimpa hubungan sosial, tentunya dapat mempengaruhi kua-litas dan kuantitas tata hukum dan sistem sosial. Bahkan terkadang hal itu menuntut dibentuknya undang-undang yang baru. Jika diasumsikan bahwa penjelasan dan penyam-paian undang-uundang semacam itu dilakukan oleh seorang nabi yang diutus sebelum ribuan tahun, sudah pasti penjelasan dan penyampaian undang-undang tersebut akan menjadi sia-sia belaka, di samping juga sangat sulit menjaga dan menjalankannya di dalam bidang-bidang tertentu.

Ketiga: pada umumnya, di masa lampau belum ada sarana informasi dan media cetak untuk menyebarkan dakwah para nabi yang memungkinkan seorang nabi untuk dapat menyampaikan risalahnya kepada seluruh umat manusia di muka bumi ini.

Keempat: ajaran para nabi itu terkadang mengalami penyimpangan, penyelewengan dan penafsiran yang keliru – akibat beberapa faktor – di tengah masyarakat yang menerima ajaran tersebut di sepanjang berlalunya masa. Kemudian selang beberapa masa, boleh jadi ajaran tersebut telah beru-bah menjadi agama yang kabur dan menyimpang. Sebagaimana dapat kita perhatikan hal ini yang terjadi pada ajaran Nabi Isa a.s. yang telah berubah menjadi agama yang berideologi trinitas.

Dengan memperhatikan hal-hal tersebut menjadi jelas Hikmah Ilahi dalam hal berbilangnya para nabi dan berbedanya syariat-syariat samawi tentang sebagian hukum ibadah dan sosial, walaupun syariat-syariat itu sama di dalam prinsip-prinsip akidah dan akhlak, juga di dalam hukum-hukum pribadi dan sosial. Misalnya, shalat disyariatkan pada semua agama samawi, kendati umatnya berbeda cara melakukannya atau berbeda kiblatnya. Demikian pula dengan zakat dan infak. Zakat dan infak ini disyariatkan dalam semua ajaran samawi, sekalipun kadar dan tempatnya berbeda-beda.

Di atas segalanya, diwajibkan bagi setiap orang untuk mempercayai seluruh nabi tanpa membeda-bedakan kenabian mereka, apalagi mendustakan ajaran dan hukum-hukum yang mereka bawa. Karena mendustakan seorang saja di antara mereka berarti mendustakan semuanya. Dan mengingkari satu hukum Ilahi saja itu berarti mengingkari seluruh hukum-hukum Allah swt. Tentunya, tugas setiap umat pada setiap zaman ialah mengikuti dan mengamalkan ajaran-ajaran yang dibawa oleh nabi mereka pada zamannya masing-masing.

Satu hal yang perlu diperhatikan di sini ialah bahwa sekalipun akal manusia mampu mengetahui hikmah berbilangnya para nabi, keragaman kitab-kitab samawi dan perbedaan syariat Ilahi, namun akal tidak dapat mengetahui secara pasti ihwal kapan dan di mana nabi yang baru itu harus diutus dan syariat yang baru itu harus diturunkan. Akal manusia hanya mampu mengetahui bahwa nabi yang baru itu tidak perlu diutus lagi apabila kehidupan masyarakat berada pada kondisi dimana seluruh dakwah para nabi itu sampai dan didengar oleh seluruh umat manusia, dan tetap terjaga keutuhannya untuk generasi yang akan datang, dan perubahan kondisi sosial tidak menuntut penurunan syariat yang baru, atau pengubahan atas hukum-hukum yang ada.

 

Jumlah Para Nabi

Telah kami jelaskan pada pelajaran yang lalu, bahwa akal tidak mempunyai jalan lain untuk mengetahui jumlah para nabi dan kitab-kitab samawi, dan tidak mudah baginya untuk membuktikan hal-hal yang semacam ini kecuali bersandar kepada penjelasan wahyu. Meskipun Al-Qur’an telah men-jelaskan bahwa Allah swt. telah mengutus setiap nabi untuk setiap umat, akan tetapi tidak menjelaskan jumlah yang pasti, baik jumlah umat maupun jumlah para nabinya. Al-Qur’an hanya menyebutkan nama-nama sejumlah kira-kira 20 nabi atau lebih sedikit, dan menjelaskan kisah-kisah sebagian mereka tanpa menjelaskan nama-nama mereka.

Di dalam sebagian riwayat yang dijelaskan bahwa Allah swt. telah mengutus sebanyak 124.000 nabi, dan mata rantai para nabi itu dimulai dari Nabi Adam a.s. (bapak manusia) dan diakhiri oleh Nabi Muhammad saw.

Di samping status kenabian yang menunjukkan kedudu-kan khas Ilahi, nabi-nabi Allah itu mereka memiliki sifat-sifat yang lain seperti: an-nâdzir atau al-munzir (pemberi ancaman), al-basyir atau al-mubasysyir (pemberi harapan). Dan mereka termasuk as-shalihin (orang-orang soleh) dan al-mukhlasin (orang-orang yang dituluskan oleh Allah). Bahkan sebagian dari mereka telah mencapai derajat ar-risalah (kerasulan). Dalam sebagian riwayat diterangkan bahwa rasul Allah itu sebanyak 313 orang. Oleh karena itu, pada kesempatan ini kami akan membahas istilah an-nubuwah dan al-risalah dan perbedaan antara nabi dan rasul.

Kenabian dan Risalah

Kata ar-rasul berarti pembawa risalah. Dan kata an-nabi, bila diderivasi dari kata naba’a, berarti pembawa berita penting. Akan tetapi, bila diambil dari kata nubuw, maka ia berarti seseorang yang mencapai peringkat tinggi nun mulia.

Sebagian ulama meyakini bahwa pengertian an-nabi itu lebih luas daripada pengertian al-rasul, karena nabi ialah seseorang yang menerima wahyu dari Allah swt., apakah ia diperintahkan untuk menyampaikannya kepada orang lain ataukah tidak. Sedangkan rasul ialah seorang yang mendapatkan wahyu dari Allah swt. seraya diperintahkan untuk menyampaikannya.

Akan tetapi, penafsiran ini tidaklah tepat. Karena dalam Al-Qur’an telah disinggung sifat an-nabi setelah al-rasul. Padahal sesuai dengan penafsiran di atas, seharusnya sifat yang mengandung pengertian al-‘alim -yaitu an-nabi– disebutkan sebelum sifat khusus, yakni al-rasul. Di samping itu, tidak ada dalil yang menunjukan kekhususan perintah menyampaikan wahyu itu atas para rasul saja. Terdapat di dalam beberapa riwayat, bahwa pemegang kedudukan kenabian itu hanya dapat melihat Malaikat Wahyu di dalam mimpi, dan mendengar suaranya ketika terjaga saja. Sedang-kan pemegang kedudukan risalah itu dapat menyaksikan Malaikat Wahyu ketika ia terjaga pula. Meski begitu, per-bedaan semacam ini tidak dapat diterapkan pada pengertian dua kata tersebut. Barangkali yang bisa diterima adalah bahwa mishdaq nabi –bukan pengertiannya- itu lebih umum ketimbang mishdaq rasul. Artinya, seluruh nabi itu memiliki kedudukan kenabian. Adapun kedudukan risalah hanya dikhususkan pada sekelompok dari mereka.

Adapun jumlah para rasul –berdasarkan riwayat terdahulu, adalah 313 orang. Tentunya, kedudukan mereka lebih tinggi daripada kedudukan seluruh nabi. Sebagaimana di antara para rasul itu sendiri tidak sama kedudukan, derajat dan keutamaan satu sama lainnya, sebab sebagian mereka dapat mencapai kedudukan imamah juga.

 

Nabi-nabi Ulul ‘Azmi

Al-Qur’an menyebut sejumlah nabi sebagai ulul azmi, akan tetapi tidak menjelaskan ciri-ciri mereka. Dari riwayat-riwayat Ahlul Bait a.s., dapat dipahami bahwa jumlah nabi ulul azmi itu adalah lima, yaitu –sesuai runutan zamannya– Nabi Nuh a.s., Nabi Ibrahim a.s., Nabi Musa a.s., Nabi Isa a.s. dan Nabi Muhammad saw. Adapun keistimewaan yang mereka san-dang, di samping sifat tabah yang tinggi dan istiqomah yang teguh, Al-Qur’an pun telah menyinggung bahwa masing-masing mereka mempunyai kitab dan syari’at yang khas. Dan syari’at mereka itu diikuti oleh nabi yang lainnya, yang semasa atau yang datang kemudian, sampai diutus nabi ulul azmi yang lain dengan membawa kitab dan syari’at yang baru.

Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa sangat mungkin dua orang nabi itu bertemu dan berkumpul dalam satu masa, sebagaimana Nabi Luth hidup sezaman dengan Nabi Ibrahim a.s, Nabi Harun a.s dengan Nabi Musa a.s., dan Nabi Yahya a.s. dengan Nabi Isa a.s.

Beberapa Catatan Penting

Di akhir pelajaran ini, kami akan menyinggung beberapa masalah secara singkat:

Pertama, antara satu nabi dengan nabi yang lain, terdapat kesaksian yang saling membenarkan; nabi sebelumnya memberikan kabar gembira tentang kedatangan nabi beri-kutnya. Oleh karena itu, seorang yang mengaku sebagai nabi, apabila ia diingkari oleh para nabi sebelumnya, atau yang sezaman dengannya, maka ia dianggap sebagai pendusta.

Kedua, para nabi Allah sama sekali tidak meminta balasan dari umat manusia atas risalah dan tugas yang mereka bawa. Dan Rasul saw. sama sekali tidak pernah meminta upah dari umatnya atas risalah yang beliau sampaikan, selain wasiat beliau agar mereka mencintai Ahlul Bait beliau. Dan beliau sangat menekankan agar mereka mengikuti dan berpegang teguh pada Ahlul Bait. Pada hakikatnya, maslahat wasiat Rasul saw. tersebut hanya untuk umat manusia itu sendiri.

Ketiga, sebagian nabi Allah itu mempunyai kedudukan Ilahi lainnya, seperti kekuasaan memutuskan hukum pengadilan. Sebagian dari para nabi terdahulu yang mempu-nyai kedudukan tersebut adalah Nabi Daud a.s. dan Nabi Sulaiman a.s. Dari surat An-Nisa ayat 64, -yang menjelaskan wajibnya mentaati semua rasul secara mutlak– dapat dipahami bahwa para rasul itu memiliki kedudukan tersebut.

Keempat, sebagian jin – sebagai makhluk yang memiliki kewajiban syariat dan kebebasan memilih, dimana manusia tidak dapat melihat mereka pada kondisi yang wajar– dapat mengetahui dakwah dan ajaran para nabi Allah. Sebagian dari mereka yang saleh dan bertakwa telah beriman. Di antara mereka adalah pengikut Nabi Musa a.s. dan Nabi Muhammad saw. Sebagaimana sebagian mereka ada juga yang kafir dan ingkar kepada para nabi karena mengikuti setan yang terkutuk.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: