Agenda Mendesak Rekonsiliasi Umat Islam

Metroislam.id – Pertikaian antara FPI dan Gus Muwafiq (NU) semakin menjurus pada cara beragama yang tidak produktif. Upaya rekonsiliasi yang diinisiasi oleh Ketum PBNU semakin berat. Kini FPI melaporkan perkara Gus Muwafiq ke Bareskrim Polri, membuat harapan adanya persatuan seluruh elemen umat Islam semakin utopis, bagai mimpi kosong di siang bolong.

Persatuan bangsa adalah amanat negara, sebagaimana termaktub dalam Pancasila. Namun, mengemban amanat tidak mudah karena hambatan egosentrisme. Hal itu bisa dilihat dari keseleo lidah yang tak disengaja seorang dai menjadi perkara politik pragmatis di tangan FPI. Padahal, jika hendak mau jujur, betapa banyak dai-dai yang jauh lebih parah dalam hal keseleo lidah.

Kita ambil contoh kecil saja, Ustad Abdul Somad (UAS) menuduh Nabi Muhammad tidak mampu mewujudkan Islam Rahmatan lil alamin, Evie Effendi menghina Nabi Muhammad dengan menyebutnya sesat, atau Kholid Basalamah yang berpendapat kedua orang tua Nabi Muhammad berada di neraka. Bahkan, Mama Dede pun dengan mudah menghakimi Islam Nusantara itu sesat. Mereka semua keseleo lidah.

Ulama-ulama NU mengerti bahwa menghadapi”pendapat keliru”, yaitu dengan memberikan pendapat yang benar; fatwa dibalas fatwa, bukan lewat jalur hukum dan perjudian politik, seperti yang dilakukan FPI. Setelah diluruskan, orang-orang yang keseleo lidah itu dimaafkan. Itu sikap bijak ulama NU demi menjaga keutuhan umat Muslim.

Lantas siapa yang menikmati buah kegagalan umat muslim lintas ormas untuk bersatu padu?

Sejarah akan selalu menjadi hantu bagi siapa pun yang mau berkhianat pada rakyat. Di era Presiden Soekarno, elemen Islam hanya satu bagian di antara dua elemen bangsa lainnya; nasionalis dan komunis. Semangat Orde Lama adalah menyatukan tiga elemen bangsa itu menjadi satu tubuh yang utuh, tersebutlah Nasionalis, Agamis, Komunis (Nasakom). Cita persatuan ini dicerai-berai pada masa berikutnya.

Orde Baru memainkan politik belah bambu yang efektif. Presiden Soeharto memanfaatkan tenaga dan pikiran kaum Islamis untuk membantunya melawan kaum Komunis. Tahun 1965 menjadi penanda kematian abadi bagi Komunisme. Hingga hari ini dan sampai kapan pun, komunisme tidak akan bangkit di Indonesia. Terus, apakah Soeharto berterima kasih atas jasa kaum Islamis ini?

Tentu saja tidak! Kita tidak bisa melupakan bagaimana Orde Baru memata-matai dan menghambat perkembangan kubu Islamis ini. Dalam perkembangannya, presiden Soeharto bertindak untuk menyempitkan peran politik kaum Islamis, karenanya parpol hanya boleh terdiri dari tiga macam saja: Golkar, PDIP dan PPP. Namun, parpol Islamis dihambat untuk berkembang pesat.

Pada awal reformasi, umat muslim merayakan pesta pora demokrasi, yang merayakan keragaman dan perbedaan. Kita temukan ada 20 partai berbasis Islam, di antaranya saja: PKU, PNU, PKB, PAN, PBR, PBB, PK, PMB, PUI, PSII, dan lainnya. Namun, euforia demokrasi semacam itu tidak lantas membuat umat muslim bersatu. Salah satunya partai Islam tidak pernah meraih electoral threshold 2,5%. Dampak tidak adanya persatuan itulah, banyak partai Islam layu sebelum berkembang.

Menyadari betapa penting arti persatuan kaum Islamis ini, KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mengajak umat muslim khususnya dan seluruh elemen bangsa lainnya untuk bersatu. Bahkan, etnik-etnik minoritas, misal Tionghoa, yang sebelumnya tidak punya tempat pun diberi tempat oleh Gus Gur. Agama Konghucu menjadi agama resmi negara. Persatuan seluruh elemen bangsa bagi Gus Dur adalah harga mati yang diamanatkan Pancasila, dan tidak bisa ditawar lagi.

Publik muslim maupun non-muslim mengerti makna humanis maupun politis di balik persatuan yang Gus Dur perjuangkan. Rabu, 12 Oktober 1999, B.J Habibie mengundurkan diri dari pencalonan, otomatis Golkar kehilangan jagoan. Gelanggang kini hanya milik Megawati dan Gus Dur. PDIP memenangkan sepertiga suara pada Pemilu Juni, sedangkan PKB hanya 13%. Semua sudah berpikir Megawati pemenangnya. Tetapi, Gus Dur diam-diam mampu mengajak seluruh elemen Islam bersatu. Di akhir penghitungan suara, Gus Dur unggul dengan 60 persen suara dibanding Megawati.

Semangat persatuan, humanisme, penghargaan perbedaan, kelompok dan etnis minoritas, adalah semangat Gus Dur yang perlu kita emban, termasuk rekonsiliasi sesama umat muslim menjadi sangat urgen dan mendesak. Egosentrisme harus dibuang jauh-jauh. Perbedaan ormas, gengsi kelompok, jangan jadi alasan perpecahan.

Sudah tiba saatnya umat Islam berbicara tentang menerjemahkan Islam sebagai rahmatan lil alamin di tengah persaingan global, kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan, sehingga Islam bermanfaat konkret bagi mereka yang hidup di berbagai pulau dari Sabang sampai Merauke! yang hidup di pesisir maupun di pedalaman dan hutan rimba; yang nyata-nyata berbeda dari segi suku, ras, agama, serta berbeda pilihan partai politik dan organisasi kemasyarakatan. Apakah Islam mampu menjawab tantangan? Jika iya, apa bukti selama ini? Inilah agenda-agenda mendesak kita saat ini; jauh lebih bermanfaat dari pada berkonflik demi kekuasaan pragmatis.

Membeda-bedakan umat Islam berdasar corak pemikiran, hanya akan melahirkan perpecahan, bukan jalan menuju persatuan dalam keragaman. Sudah terlalu banyak ilmuan menganalisis tentang karakter dan garis perjuangan umat Islam, misalnya: Islam Kanan, Islam Kiri, Islam Moderat, Islam Tradisional, Islam Puritan, Islam Modernis, dan lainnya. Tetapi, hasil kerja mereka sudah tidak relevan lagi bagi kepentingan persatuan bangsa. Jika kaum Islamis tidak bersatu dan masih mudah dipecah belah, lantas apa manfaat kekuatan besar Islam itu? Jika umat Islam masih mudah diadu-domba sehingga tetap lemah secara politis, apa bedanya era reformasi dengan era orde baru?

Kubu Islamis diperlakukan setara pada era Soekarno, karenanya ada mimpi tentang NASAKOM. Tetapi, setelah Komunisme dihancurkan sampai ke akar-akarnya, kelompok Islamis ini hanya jadi sapi perah bagi kaum Nasionalis. Hal itu sangat kentara pada masa rezim Orde Baru.

Di era reformasi, kaum Nasionalis sudah semakin canggih, jauh lebih berpengalaman dalam politik dan perang merebut kekuasaan. Hanya dengan politik adu domba dan politik belah bambu pada umat Islam, kekuasaan akan tetap bertahan di genggaman kaum Nasionalis. Karenanya, perpecahan di internal umat Islam sudah tidak relevan lagi. Rekonsiliasi kaum Islamis menjadi satu-satunya agenda paling mendesak, yang tidak bisa ditawar!

Sumber: tribunnews.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: