Cyberspace; Antara Peluang dan Ancaman (Bag. 1)

Metroislam.id – Menyusul berkembangnya teknologi komunikasi dan informasi moderen, dunia telah memasuki era baru yang tidak bisa lagi didefinisikan dengan parameter tradisional. Munculnya teknologi baru telah menciptakan ruang maya, dan contoh yang paling jelas adalah internet dan berbagai jaringannya. Ruang ini telah mengubah pola interaksi dan hubungan manusia dengan karakteristik dan fungsinya tersendiri.

Melalui penggunaan teknologi baru yang meluas dalam beberapa tahun terakhir, masalah ketergantungan internet dan ancamannya telah menjadi kekhawatiran bagi sebagian besar pengguna karena rendahnya kesadaran dan kurangnya pertumbuhan budaya pengguna, sehingga menimbulkan berbagai masalah perilaku, eksploitasi internet, isolasi, dominasi dan bahkan perilaku agresif.

Dunia internet adalah dunia maya bagi pengguna adalah semacam mimpi dan jauh dari kenyataan. Kebebasan palsu di dunia maya adalah sarana pelampiasan psikologi, dan ketergantungan ini telah berubah menjadi semacam kecanduan non-kimia dalam perilaku pengguna. Ruang ini memiliki berbagai fitur yang di antaranya adalah trans-teritorial, kebebasan bertindak dalam penggunaannya, dan tidak adanya norma dan peraturan pemerintah di dalamnya.

Secara keseluruhan, dunia maya berarti komunikasi manusia melalui komputer dan komunikasi jarak jauh, terlepas dari letak geografis. Istilah ini pertama kali digunakan oleh penulis fiksi sains bernama William Gibson. Ini adalah ruang untuk menggambarkan berbagai sumber informasi melalui jaringan komputer yang dipertukarkan dengan data digital.

Internet, saat ini, adalah jaringan komunikasi terbesar, walaupun dunia maya memiliki konsep yang independen dibanding internet, dan cyber-communication telah dimulai sebelum internet dan jaringan global. Interaksi manusia di ruang ini, berbeda dengan ruang nyata yang melalui tatap muka langsung di satu titik dan tempat, dan bersifat universal. Namun di ruang ini biasanya individu tetap anonim. Ruang ini mudah diakses kapan dan di mana saja. Internet adalah fitur yang paling menonjol dari ruang komunikasi yang memiliki banyak signal di mana jutaan pengguna dunia yang saling berinteraksi terhubung melalui jejaring sosial, e-mail dan chat room.

Dunia maya atau cyberspace adalah lingkungan yang tidak terkendali karena kurangnya tanda fisik, semua di objek di dalamnya tidak berfisik, tidak terbatas di satu titik, anonim, dan tidak dapat dikontrol secara nyata.  Pada saat bersamaan, karena fitur dan struktur teknologi yang kuat, dikendalikan berbagai struktur invisible dan visible di ruang ini.

Interaksi, merupakan karakteristik utama media di dunia maya yang meningkatkan volume interaksi percakapan dan visual yang tidak tersedia di media lain, termasuk media massa (surat kabar dan televisi). Atmosfer seperti ini berkembang dengan cepat karena kemunculan dan perkembangan teknologi komunikasi dan informasi baru di “era globalisasi.” Sebenarnya, di dunia maya, tidak ada struktur sosial kolektif, dan lingkungan ini adalah ruang samar dan ambigu.

Secara umum, dapat dikatakan bahwa dunia maya telah memainkan peran yang tak tertandingi dalam banyak keberhasilan dan kemajuan manusia di berbagai bidang sains, jasa dan peningkatan kehidupan masyarakat. Cyberspace memiliki banyak peluang berharga dan bermanfaat yang harus digunakan untuk mempromosikan pengetahuan ilmiah dan meningkatkan kesadaran di berbagai bidang.

Namun dewasa ini, bagi para pemuda, dunia maya lebih berpotensi menjadi ancaman ketimbnag memberikan manfaat. Keunggulan terpenting cyberspace adalah kemudahan akses bagi semua masyarakat dan informasi yang up-to-date.

Tentu saja, dampak dunia maya di negara maju dan berkembang sangat berbeda. Negara-negara terbelakang lebih rentan terhadap krisis dan memberi pengaruh lebih kurang. Termasuk di antara poin yang dapat dikategorikan sebagai ancaman dalam dunia maya adalah jurang antargenerasi. Cyberspace telah memperlebar kesenjangan antargenerasi, dan sekarang, dengan lahirnya perangkat dan teknologi baru ke dalam ruang privasi keluarga, kita menyaksikan orang tua dan anak-anak duduk bersama selama berjam-jam tanpa saling berkomunikasi.

Saat ini, sedikit sekali keluarga di mana orang tua dan anak-anak duduk bersama untuk membicarakan berbagai masalah keluarga dan pekerjaan dan saling menayakan bebragai topik. Dalam kondisi saat ini, hubungan antara orang tua dan anak-anak terasa dingin, dan engingat perbedaan sosial dan pengalaman yang berbeda-beda, dua generasi ini melihat kehidupan dari sudut pandang mereka dan menafsirkannya sesuai dengan informasi mereka sendiri.

Meningkatkan penggunaan Internet dan jaringan sosial, akhir-akhir ini, meski penggunaannya bermanfaat, namun telah membuat anggota keluarga saling menjauh karena jam kerja panjang orang tua dan perubahan sikap orang tua dalam pendidikan anak. Terlepas dari kedekatan fisik dan kehidupan di bawah satu atap, muncul banyak jarak emosional dan spiritual di antara anggota keluarga, dan mereka tidak memiliki hubungan dan dialog yang penuh simpati dan kohesif.

Terciptanya jarak emosional dan spiritual telah menyebabkan dampak negatif bagi keluarga, dan terlepas dari berbagai faktor negatif lainnya dalam hubungan keluarga, telah menyebabkan lemahnya ikatan keluarga dan jarak emosional pasangan, berkurangnya keintiman anggota keluarga serta peningkatan kesenjangan antargenerasi.

Para ahli menilai penyebab berbagai aksi kekerasan dalam keluarga adalah kurangnya komunikasi dan interaksi empati yang baik dalam lingkungan keluarga. Berdasarkan poin-poin ini, nampaknya penting untuk mencoba meminimalkan ancaman jaringan dunia maya terhadap kesehatan dan stabilitas lingkungan keluarga.

Hubungan antaranggota keluarga menjadi dingin seiring dengan berkembangnya dunia. Hubungan keluarga yang dingin dapat dikaitkan dengan pengalaman sosial yang berbeda di antara anggota keluarga. Orang tua dan anak-anak, menjadi lebih kurang berinteraksi secara fisik, emosional, informasional dan rekreasi faktual serta menyimpan kenangan bersama.

Berkurangnya poin kebersamaan emosional dan intelektual berkontribusi pada pelebaran perbedaan sudut pandang, dan sebagai dampaknya, setiap anggota keluarga menafsirkan kehidupan dari sudut pandang masing-masing dan menempuh jalan yang berbeda. Kesalahpahaman perspektif dan hubungan dingin antara pasangan, perceraian dan peningkatannya, juga merupakan pengaruh negatif dari dunia maya.

Dialog, komunikasi, interaksi dan pertukaran informasi merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia. Dialog adalah keterampilan terpenting dalam memperkokoh pondasi dan menciptakan suasana hangat dalam keluarga, serta merupakan peluang untuk mengekspresikan saling ketertarikan, keintiman, dan optimisme serta mengurangi jarak. Adalah sebuah keluarga yang kokoh bagi anggotanya yang suka berbincang dan menikmati interaksi tersebut. Dalam keluarga seperti itu, setiap anggota memiliki level stres yang rendah dan pada akhirnya dapat membangun anak-anak yang sukses.

Namun seiring dengan transformasi sosial dalam masyarakat yang sedang melalui masa transisi, kita dengan berbagai alasan, termasuk kesibukan orang tua di luar rumah, semakin sedikit anggota keluarga dapat berkumpul dan berinteraksi secara langsung. Kondisi seperti ini membutuhkan funsi dunia maya. Sistem komunikasi baru (jaringan virtual) lebih mudah, murah dan terjangkau, dan oleh karena itu, penggunaan teknologi baru ini lebih menarik bagi pengguna dan kurangnya komunikasi dalam masyarakat dapat ditutupi melalui sistem ini.

Keluarga harus secara serius mewajibkan dialog berkualitas di dalam rumah. Orang tua harus menjadi teladan interaksi yang baik dan sadar akan waktu serta jadwal dialog di rumah dan berbicara dengan anak-anak mereka tentang berbagai masalah. Dialog yang jujur adalah salah satu cara terpenting dan efektif untuk meningkatkan keintiman di antara anggota keluarga, namun ini memerlukan penguatan keterampilan dialog dan kualitasnya.

Pemilihan pasangan yang tidak tepat dan tidak setara juga menjadi alasan utama meluasnya perceraian. Sementara kelemahan keterampilan hidup dan juga ketidakmampuan untuk menjalin komunikasi yang proporsional juga menjadi penyebab kedua perceraian. Rendahnya tingkat kesepahaman dan kelemahan dalam komunikasi emosional karena perubahan gaya hidup telah menyebabkan munculnya gangguan karena pengandalan pada gadget dan aplikasinya tanpa dibekali dengan pengetahuan dan budaya penggunaannya yang benar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: