Gus Dur, Natal Dan Gereja Berkubah Mirip Masjid Di Blora

Metroislam.id – Kubahnya yang menjulang tinggi di antara bangunan kora Blora membuat gereja ini kerap disangka rumah ibadah umat muslim, Masjid.

Namanya Graha Bethany, sebuah gereja umat Kristen di Kabupaten Blora. Gereja ini merupakan anggota dari Persekutuan Injili Indonesia (PII) yang memiliki jaringan besar di Asia Tenggara.

Sinode Gereja Bethany berpusat di Surabaya, Jawa Timur. Dan bangunan gereja lantai enam ini adalah yang terbesar di Kabupaten Blora.

Gereja yang beralamatkan di Jalan Ahmad Yani, Tempelan, Blora kota ini nampak megah. Tinggi bangunannya sekitar 28 meter dengan luas sekitar 4.000 meter persegi. Gereja ini mampu menampung antara 2.500 hingga 3.000 orang.

Soal keberadaan kubah yang identik dengan masjid, ternyata gereja Btehany Blora ini memang mengadopsi desain bangunan di negara timur tengah.

“Kelebihan gereja ini pada bagian atasnya dibuat mirip kubah masjid di Yerussalem, Palestina,” kata Pendeta Muda Graha Bethany, Arif Adikara, kepada Liputan6.com, Sabtu (21/12/2019).

Dia mengungkapkan, dengan kapasitasnya yang besar, jemaat yang beribadah rutin di gereja Gereja Bethany tak terbatas warga Blora. Luar daerah seperti Tuban, Bojonegoro, Rembang, Pati, Grobogan, Karanganyar pun banyak yang berdatangan untuk beribadah.

Menjelang perayaan Natal, 25 Desember 2019, tampak para pengurus gereja menyiapkan berbagai pernak-pernik agar Graha Bethany tampak lebih menawan

Pendeta muda, Tanty Febiola mengungkapkan, berdirinya Graha Bethany berawal dari sekumpulan umat Kisten yang bertobat kemudian mendirikan sebuah gereja. Ada tujuh founder atau pendiri yang mempelopori berdirinya Graha Bethany. Salah satunya adalah dari ayahandanya sendiri.

Tanty mengungkapkan, impian membangun Graha Bethany sekitar tahun 1997. Pada zaman Presiden Gus Dur atau KH Abdurrahman Wahid, Graha Bethany mendapatkan izin dari pemerintah. Pembangunan dimulai pada tahun 2000 dan mulai ditempati untuk beribadah umat Kristen sejak tahun 2004.

“Saat itu jemaat gereja ini belum ada 100 orang dan waktu itu kita pikir hanya ingin bangun gereja yang hanya kapasitasnya sekitar menampung 300 orang,” ujar Tanty.

Tanty menceritakan, Ibunya Esther Srimining dulu selalu berdoa agar pembangunan Graha Bethany diberikan yang terbaik. Sebenarnya, kata dia, awalnya tidak ingin membangun Graha Bethany ditempat ini lantaran sudah ada tempat lain yang telah disediakan

Dia bercerita, waktu itu keluarganya tidak punya rumah selama 13 tahun. Keluarganya hidup menumpang di rumah orang lain.

Sumber: liputan6.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: