Akademisi UB: Cyberspace Sebabkan Radikalisme Meningkat

Metroislam.id  Aksi terorisme dalam kurun waktu 18 tahun terakhir terus menurun. Namun, paham radikalisme terus terus meningkat.

Hal itu disampaikan oleh Akademisi Universitas Brawijaya (UB), Rachmat Kriyantono, PhD dalam Refleksi Akhir Tahun 2019 di Auditorium Nuswantara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya, Senin (30/12/2019).

Mengutip data dari Laporan Mabes Polri, Rachmat mengatakan bahwa insiden terorisme di Indonesia mulai meningkat sejak tahun 1996. Saat itu, tercatat ada 65 kejadian. Kemudian aksi terorisme mencapai puncaknya pada tahun 2001 dengan 105 kejadian.

Setelah itu, kejadian aksi terorisme di Indonesia terus menurun. Pada tahun 2018 terdapat 19 kejadian dan pada tahun 2019 terdapat delapan kejadian.

“Sebenarnya, aksi teror menurun jumlahnya. Mulai meningkat pada 1996 ada 65 kasus, dan puncaknya pada 2001, 105 kasus. Hanya, sejak tahun tersebut terorisme menurun,” katanya.

“Pada 2018 ada 19 kejadian dan 2019 menjadi delapan kejadian. Artinya, pemerintah melalui alat negara, seperti BNPT dan polisi, TNI, mampu mengurangi aksi terror. Tetapi, paham radikalisme ternyata belum, bahkan meningkat.”

Ketua Program Studi Pascasarjana Ilmu Komunikasi itu mengatakan, peningkatan paham radikalisme itu salah satunya dipicu oleh faktor komunikasi.

Peran media sosial dalam pengembangan radikalisme

Terutama faktor komunikasi di media sosial. Menurutnya, karakter media sosial yang tanpa batas membuat penyebaran paham radikal semakin sulit dihalau.

“Karena faktor komunikasi. Komunikasi di media sosial membuat penyebaran paham radikal ini meningkat dan sulit dihalau,” katanya.

“Media sosial itu bersifat borderless dan luas, partisipatif dengan peserta beragam, bersifat private dalam penggunaan, komunikasi bebas dan cepat dan pesan mudah dibuat,” ungkapnya.

Karakter media sosial itu berseiring dengan meningkatnya penggunaan media sosial. Hal itu semakin mempercepat penyebaran paham radikal di media sosial.

“Percepatan paham radikalisme menyebar juga disebabkan oleh akselerasi pengguna internet yang meningkat. Dominasi situs-situs hoaks dan radikalisme juga masih tinggi,” jelasnya.

“Data menunjukkan situs-situs Ormas Islam moderat besar, NU dan Suara Muhammadiyah masih belum mendominasi, masih diungguli situs-situs Islam konservatif yang dalam tanda kutip lebih ramah paham radikalisme.”

Mengutip definisi radikalisme dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) ciri-ciri radikalisme adalah paham yang menginginkan perubahan secara cepat dengan kekerasan, paham yang mendukung, menyebarkan dan mengajak menjadi anggota ISIS serta paham yang mendefinisikan jihad secara terbatas yang menjurus pada bentuk kekerasan untuk mewujudkannya.

Cara tanggulangi radikalisme

Ada berbagai cara yang ditawarkan Rachmat untuk menanggulangi paham radikalisme di Indonesia. Pertama, pendidikan literasi bermedia sosial perlu ditingkatkan. Kedua, pemblokiran situs radikal dengan tetap berdasarkan pada publik tentang alasan pemblokiran. Ketiga, meningkatkan komunikasi budaya lokal dalam beragama. Keempat, kurikulum pendidikan agama lebih diarahkan pada perwujudan nilai-nilai hubungan antar manusia dan menggandengkannya dengan Pancasila. Kelima, kesadaran elit untuk beragama dalam berpolitik dan bukan berpolitik dalam beragama.

“Saya meyakini, jika kelima hal ini sungguh-sungguh dilaksanakan bisa mencegah perkembangan radikalisme menjadi aksi- aksi teror, bahkan bisa mengurangi radikalisme itu sendiri,” jelasnya.

Sosiolog Universitas Brawijaya (UB) Ali Maksum menyampaikan, terjadinya paham radikal di Indonesia disebabkan oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal berupa agama, politik dan ekonomi. Sedangkan faktor eksternal disebabkan oleh kondisi politik global, arab springs dan geo-politik.

Penyebaran paham radikal itu bisa dicegah dengan meneguhkan moderasi Islam di Indonesia, menanamkan jiwa nasionalisme, berpikiran terbuka dan toleran, waspada terhadap provokasi dan hasutan, berjejaring dalam komunitas positif dan perdamaian serta menjalankan aktivitas keagamaan dengan toleran.

Sumber: kompas.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: