Haedar Nashir: Sambut Tahun Baru Dengan Tasyakur dan Tafakur

Metroislam.id – Refleksi Akhir Tahun 2019 yang bertempat di Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta (31/12) dihadiri oleh Prof Dr Haedar Nashir, MSi Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang sekaligus menjadi pembicara utama pada kajian tahunan tersebut.

Haedar Nashir menyampaikan bahwa dalam hidup di dunia, manusia memiliki dua peran yaitu, yang pertama sebagai ‘Abdullah’ hamba Allah dan yang kedua sebagai ‘Khalifatullah’ pengatur alam dan seisinya. Dari kedua peran tersebut manusia harus sadar bahwa kepentingannya di dunia tidak boleh mengalahkan kepentingannya di akhirat dan begitu pula sebaliknya. Kedua-duanya harus dicapai dengan usaha yang maksimal.

Maka sesuai dengan firman Allah Swt “Dan carilah pada apa yang telah dianugrahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari kenikmatan dunia,” (QS. Al-Qashash: 77).

Haedar Nashir menjelaskan bahwa dalam menghadapi pergantian tahun baik hijriyah atau miladiyah kita selaku umat yang beriman harus selalu tasyakur dan tazakkur. Bersyukur dan berzikir dalam makna yang luas. “Besyukur terhadap segala apa yang Allah anugrahkan kepada kita dan selalu mengingat Allah dimana pun kita berada,” pesannya.

Allah Swt selalu mengingatkan kepada kita “Maka ingatlah kepada-Ku niscaya Aku ingat kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku,” (QS. Al-Baqarah: 152).

Lanjutnya, orang yang bertaqwa akan selalu merasa diawasi oleh Allah Swt. Ia akan selalu takut berbuat sesuatu yang melanggar ketentuan yang telah digariskan oleh Allah dan rasul-Nya. Maka sebagai orang yang beriman harus senantiasa menggunakan waktunya dengan sebaik-baiknya.
Sebagai mana Allah Swt berfirman di dalam QS. Al-Ash: 1-3, “Demi waktu. Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran.”

Menurut Muhammad Abduh, al-Ash memiliki makna waktu yang diisi dengan perbuatan terbaik. Perbuatan yang memberikan manfaat bagi diri sendiri maupun orang lain. “Tidak ada satupun manusia yang tahu kapan dan dimana ia meninggal. Maka marilah kita memberikan makna pada hidup kita,” tutupnya.

Sumber: suaramuhammadiyah.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: