Mengurai Masalah Lingkungan (Bag. 4)

Metroislam.id –  Menurut para ilmuwan, pencemaran air adalah perusakan kualitas dan susunannya di mana air akan kehilangan peran alaminya dalam memberi kehidupan. Dari sisi dampaknya adalah air yang sudah tercemar tidak dapat dimanfaatkan serta akan kehilangan sisi ekonomisnya yang tinggi. Namun salah satu yang mengagumkan dari dari alam adalah bumi mampu membersihkan beragam polusi dan pencemaran.

Pakar lingkungan hidup di risetnya memahami bahwa lapisan mengagumkan bumi di samping siklus bakteri pengurai dan binatang mikroskopi menciptakan sistem pemulihan dan penyaringan di bumi. Melalui mekanisme seperti ini, selama berabad-abad air limbah setelah mengalir melalui berbagai lapisan bumi berubah menjadi air jernih dan sehat.

Berdasarkan proses ini, bumi dengan murah hati selama berabad-abad telah membersihkan setiap polusi dan pencemaran. Namun manusia dengan perilaku kelirunya telah merusak mesin pembersih paling besar di dunia. Salah satu kendala terbesar saat ini, yakni pencemaran air bersih adalah ulah manusia sendiri. Limbah industri, sampah baik dari manusia, hewan, tumbuhan, tambang, industri atau kimia yang mengalir ke air merupakan faktor utama pencemaran air bersih.

Riset menunjukkan bahwa dewasa ini sumber air bawah tanah, khususnya di kota-kota besar dan padat penduduk, menghadapi beragam kendala. Merembesnya limbah industri, sumur pembuangan limbah manusia, penggunaan berlebihan diterjen kimia, pengaruh pupuk kimia dan hewani ke bumi telah mendorong pencemaran air bawah tanah. Air danau, sungai dan bahkan air dari lelehan es serta salju juga memiliki kadar pencemaran industri yang besar.

Polusi yang telah dibersihkan di air dan pemisahan bahan pencemar tersebut dari air, membutuhkan teknologi yang rumit dan berbiaya mahal seperti osmisis terbalik. Proses ini jika dimanfaatkan untuk menyaring air dalam jumlah yang besar sangat tidak menguntungkan bagi setiap negara, bahkan negara maju sekalipun. Oleh karena itu, dewasa ini berbagai pemerintah hanya berusaha sedikitnya membersihkan air dari bakteri melalui proses stik drum. Padalah di proses ini, sisa-sisa bahan tercemar masih tersisa.

Badan Pembangunan PBB (UNDP) menilai akses air bersih sebagai hak primer dan kebutuhan perdamaian berbagai bangsa. Mantan sekjen PBB, Kofi Annan di tahun 2001 mengumumkan bahwa mengakses air bersih merupakan kebutuhan mendasar dan hak yang tidak dapat dipungkiri. Ia menilai air tercemar sebagai faktor perusak kesehatan badan dan sosial. “Perilaku seperti ini merupakan pelecehan terhadap kehormatan manusia,” ungkap Annan.

Berdasarkan berbagai bukti yang ada, pencemaran air saat ini merupakan penyebab utama kematian di seluruh dunia dan setiap hari sekitar 14000 orang meninggal dunia akibat pencemaran air. Pencemaran air bersih dan penyakit yang ditimbulkannya setiap tahun telah merenggut nyawa lima juta orang. Data yang data menunjukkan bahwa kini lebih dari satu miliar orang di seluruh dunia tidak dapat mengakses air bersih dan setiap tahun sekitar dua miliar orang menderita beragam penyakit akibat pencemaran air. Sementara setiap hari sekitar lima ribu anak di seluruh dunia meninggal akibat mengkonsumsi air tercemar. Cina menempatai peringkat pertama sebagai negara pencemar air dan kemudian disusul Amerika Serikat.

Berdasarkan data, di India sekitar 700 juta warganya tidak memiliki toilet dan masalah ini menimbulkan pencemaran air. Dan setiap hari sekitar 1000 anak-anak di India menderita diare dan meninggal. Hampir 90 persen warga Cina menderita akibat tingkat air yang tercemar dan hampir 500 juta tidak memiliki akses air bersih. WHO menyebut air tercemar sebagai penyebab penyakit dari setiap sepuluh pasien dan enam persen kematian di dunia juga disebabkan oleh air tercemar.

Demam tipus atau demam tifoid merupakan penyakit utama akibat mengkonsumsi air tercemar. Otak, sistem saraf dan mata merupakan anggota badan yang paling rentan akibat penyakit ini. Laporan WHO menyebutkan, di negara-negara maju, air hanya satu persen sebagai penyebab kematian. Sementara angka ini di negara berkembang mancapai 12-23 persen.

Salah satu pencemaran yang biasa terjadi di kota-kota industri dewasa ini  dan mengancam secara serius manusia serta lingkungan hidup adalah meningkatnya nitrat di air. Tidak adanya jaringan pembuangan limbah perkotaan dan jaringan pembuangan limbah tradisional melalui sumur, khususnya di kota-kota padat penduduk, meresapnya sampah dan limbah industri ke sumber air bawah tanah, meresepnya pupuk nitrat dan pupuk kandang ke dasar bumi  menyebabkan tingkat nitrat air bawah tanah semakin besar.

Oleh karena itu, di negara-negara yang suhu udaranya panas dan kering serta jarang turun hujan, serta 80-90 persen kebutuhan air minum warganya bergantung pada sumber air bawah tanah atau sumur, maka tinkat nitrat di air akan melampaui batas kewajaran. Menurut para pakar, nitrat baik di permukaan bumi atau di dalam, menimbulkan dampak buruk bagi ekosistem. Sejatinya meledaknya jumlah nitrat di tanah dan air membahayakan baik manusia maupun tumbuh-tumbuhan.

Nitrat menyebabkan gangguan proses pengiriman oksigen ke badan dan khususnya bagi anak-anak serta ibu hamil dapat menimbulkan efek yang sulit ditangani. Nitrat meningkatkan kemungkinan seseorang terkena penyakit kanker, khususnya pada bayi yang masih menyusu, di mana tubuhnya masih lemah dan akan menimbulkan gangguan serius pada darah mereka. Nitrat termasuk bahan pencemaran yang larut di air dan sulit untuk dibersihkan oleh sistem penyaringan air biasa atau stik drum.

Salah satu daerah yang saat ini didera pencemaran air yang parah dan kadar nitratnya tinggi adalah Jalur Gaza di Palestina. Sekelompok ilmuwan Palestina dan Jerman setelah melakukan riset bersama, membenarkan kasus tersebut. Berdasarkan hasil riset mereka, 90 persen sampel air dari Jalur Gaza sekitar 2-8 kali dari batas kewajaran. Seluruh sampel air tersebut diambil dari sumber air bawah tanah di Jalur Gaza, mengingat mayoritas air minum di kawasan ini diambil dari air bawah tanah.

Riset ini juga menyelidiki 640 bayi di Jalur Gaza dan mereka menunjukkan tanda-tanda sindrom keracunan nitrat. Hasil riset tersebut menunjukkan separuh dari bayi mengidap sindrom. Menurut para ilmuwan penyebab utama kondisi ini adalah penggunaan pupuk kandang untuk pertanian. Jalur Gaza adalah daerah yang diblokade oleh rezim Zionis. Di wilayah ini, setiap satu kilometar hidup sekitar 2600 orang dan mengingat kesulitan hidup yang tinggi, warga di wilayah ini terpaksa memenuhi kebutuhan hidupnya melalui cara tradisional.

Untuk saat ini, seperempat lahan pertanian Jalur Gaza menggunakan kotoran ayam dan sapi sebagai pupuk. Dengan demikian wajar jika sumber air bawah tanah di daerah ini tercemar. Antara tahun 2001-2007 diambil sampel air dari 165 sumur di Gaza. Hasilnya menunjukkan bahwa selain 13 kasus, sisa sumur di daerah ini mengandung nitrat yang tinggi dan di luar batas kewajaran.

Namun demikian polusi dan pencemaran nitrat di air bukan hanya milik negara berkembang, namun banyak negara industri dan maju juga didera oleh masalah serupa. Di Uni Eropa, 15 negara di laporan nasionalnya mengumumkan pencemaran sumber air bawah tanah mereka dengan nitrat. Di Uni Eropa pencemaran nitrat mayoritasnya disebabkan oleh penggunaan berlebihan pupuk kimia. Oleh karena itu, mayoritas pencemaran air terjadi di sumur-sumur kecil di wilayah pedesaan.

Misalnya Belgia, 29 persen dari 5000 sumur di negara ini mengandung nitrat di atas 50 ml setiap liternya. Sementara di wilayah tengah dan timur Eropa seperti Hungaria dan Slovekia, sumber air bawah tanahnya selain mengandung nitrat juga tercemari oleh mikrobiologi. Meski Komisi Lingkungan Hidup Uni Eropa menyatakan tengah melakukan sejumlah langkah untuk menurunkan kadar nitrat di air bawah tanah, organisasi ini sejak tahun 2004 menyatakan kadar nitrat berhasil dikendalikan dan di sebagian wilayah berhasil diturunkan, namun pencemaran ini sampai kini masih tetap ada.

Yang pasti regenerasi alami lingkungan hidup, khususnya sumber air bersih membutuhkan manajeman sumber daya dan pengawasan yang ketat, sehingga selain polusi dapat ditanggulangi, juga akan memberi peluang kepada alam untuk menggerakkan kembali siklus regenerasinya. Namun pertanyaannya adalah apakah manusia yang rakus dewasa ini akan memberi peluang tersebut kepada alam?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: