Analis: Setiap Presiden Amerika Gaungkan Perdamaian, Tapi Selalu Memulai Perang

Metroislam.id – Setiap presiden AS membicarakan perdamaian tetapi mengobarkan perang, karena semua presiden adalah “tawanan kompleks industri militer yang merupakan penopang ekonomi AS,” kata Dennis Etler, seorang analis politik Amerika yang memiliki minat puluhan tahun dalam urusan internasional.

Menteri Luar Negeri (Menlu) Amerika Serikat Mike Pompeo pada hari Senin mengkategorikan serangkaian serangan militer AS yang agresif di Irak dan Suriah yang menewaskan puluhan orang sebagai “tindakan defensif” yang dimaksudkan untuk melindungi kepentingan negara itu di Timur Tengah.

Dalam sebuah wawancara online dengan Press TV pada hari Selasa (31/12), Etler, mantan profesor Antropologi di Cabrillo College di Aptos, California, mengatakan, “Pendudukan yang berkelanjutan di Irak dan Suriah oleh pasukan militer AS melanggar semua norma dan standar internasional. Baik pemerintah Suriah dan pasukan patriotik di pemerintah Irak telah menuntut agar AS menarik militernya tetapi tidak berhasil. Tidak ada alasan yang sah untuk kelanjutan kehadiran AS di kedua negara itu”.

“Tidak mengherankan bahwa pendudukan ilegal Amerika Serikat di kedua negara telah menimbulkan perlawanan rakyat. Orang-orang dari setiap negara memiliki hak untuk mempertahankan kedaulatan dan integritas teritorial mereka dari invasi asing. Dengan demikian, pernyataan Sekretaris Negara AS Pompeo bahwa mereka bertindak defensif dalam menyerang pasukan yang bersahabat dengan pemerintah Suriah dan Irak sama sekali tidak berdasar,” tambahnya.

“Tapi, itu memang praktik standar Amerika untuk merengek mengenai ‘pertahanan nasional’ ketika terlibat melancarkan perang agresi. Setiap presiden AS selalu berbicara tentang perdamaian dan mengobarkan perang, dan pembicaraan Trump tentang penarikan pasukan AS dari Timur Tengah juga merupakan bagian dari begitu banyak omong kosong lainnya,” katanya.

“Semua presiden AS adalah tawanan kompleks industri militer yang merupakan fondasi ekonomi AS. Perusahaan seperti Boeing dan Lockheed tidak dapat bertahan tanpa pengeluaran pertahanan AS yang besar. Mereka membutuhkan perang terus-menerus untuk menjual produk mereka dan mendapat untung besar dari sistem pengadaan militer yang korup, ”kata analis itu.

“Dengan cara yang sama, media AS dikendalikan oleh komplotan kecil rahasia konglomerat multimedia besar yang mewakili kepentingan perusahaan AS dan pelayan politik mereka. Bukan merupakan suatu kebetulan jika tajuk utama yang dibicarakan di program-program jaringan dan channel mereka adalah sama, dan mereka terus-menerus mewawancarai mantan pemimpin militer yang sama, para agen FBI dan CIA yang sama, serta mantan pejabat pemerintah yang sama,” katanya.

Sumber: arrahmahnews.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: