Iran Kibarkan Bendera Merah, Simbol Perlawanan

Metroislam.id – Media-media internasional memberitakan tentang pengibaran bendera berwarna merah darah di Masjid Jamkaran, Qom, Iran pada hari Sabtu, 4 Januari 2020; hanya sehari setelah peristiwa pembunuhan atas Jenderal Qassem Soleimani oleh tentara AS. Bendera itu bertuliskan “Ya litsaarati Al-Husein”, yang bermakna “Tuntut balas kematian Al-Husien”. Prosesi pengibaran bendera yang disiarkan secara langsung oleh televisi nasional itu diyakini sebagai sebuah komando dari Pemimpin Spiritual Iran atas dimulainya perlawanan dan pembalasan oleh Iran terhadap kejahatan terorisme AS.

Dalam sejarahnya, bendera merah darah dan slogannya itu pertama kali dikibarkan oleh kelompok Mukhtar Al-Tsaqafi di abad pertama Hijriah. Mukhtar berhasil membentuk pasukan yang tujuan utamanya adalah memburu dan memberikan hukuman atas setiap orang yang terlibat dalam peristiwa pembantaian Husein bin Ali, cucu Rasulullah SAW yang tewas dalam peristiwa Asyura. Karena itu, bendera merah bertuliskan “Ya litsaarati Al-Husein” itu adalah simbol kemarahan dan sumpah setia untuk melakukan pembalasan.

Peristiwa pembununan terhadap Jenderal Soleimani memang sangat memukul sekaligus membangkitkan kemarahan rakyat Iran. Persitiwa pembunuhan terjadi ketika Jenderal Soleimani sedang melakukan kunjungan resmi kenegaraan sebagai pejabat militer Iran dengan menggunakan pesawat sipil. Di Baghdad, Soleimani disambut secara resmi oleh koleganya sebagai sesama pejabat militer. Saat itulah pesawat drone AS melakukan serangan udara yang menewaskan Jenderal Soleimani.

Bisa dikatakan, seluruh kelompok dan faksi politik di Iran saat ini bersatu padu dalam meneriakkan kemarahan yang sama. Soleimani adalah tokoh nasional yang sangat dihormati. Akan tetapi, di mata AS, Soleimani seakan seekor lalat pengganggu yang setiap saat bisa dibunuh tanpa perlu merasa bersalah; bahkan Presiden Trump merasa bangga atas tindakannya itu. Karenanya, teror atas Soleimani dianggap sebagai penghinaan kepada bangsa Iran.

Iran seperti tak punya pilihan lain kecuali melakukan perlawanan, terutama ketika Presiden Trump malah menunjukkan arogansi menantang, alih-alih meminta maaf dan mencoba meredakan situasi. Jika Iran tidak melawan, AS dipastikan akan melakukan hal serupa kepada tokoh-tokoh Iran, dan juga kepada siapapun yang dianggap sebagai penghalang kepentingan AS. Negeri Paman Sam itu kelak akan dengan mudahnya membunuh siapapun, cukup dengan menjatuhkan stigma teroris kepada tokoh yang menjadi target. Stigma itu cukup dijatuhkan secara sepihak tanpa perlu mendapatkan persetujuan dari siapapun. AS akan merasa mendapatkan legitimasi dan memiliki hak untuk menjadi polisi jaksa, hakim, sekaligus eksekutor. Semuanya diperankan oleh AS. Persetan dengan pengadilan internasional; atau berbagai lembaga HAM dunia.

Bendera merah darah sudah dikibarkan di Iran. Jika tak ada perubahan sikap dari AS, kemungkinan besar kita akan menyaksikan sebuah krisis besar di Timur Tengah; krisis yang imbasnya, mau tak mau, akan merembet juga ke seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia. Kita tentu berharap Trump akan berubah dengan cara menurunkan gengsi dan arogansinya; meskipun sepertinya itu adalah harapan yang nyaris sia-sia.

Sumber: liputanislam.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: