Manuskrip Sufi dari Bone Sulawesi Selatan

Metroislam.id – Perpustakaan asal London, British Library berhasil melakukan digitalisasi untuk beberapa manuskrip kuno yang berasal dari Indonesia. Ada sekitar 34 manuskrip yang berhasil diidentifikasi berasal dari Istana Kerajaan Bone di Sulawesi Selatan. Manuskrip-manuskrip tersebut diambil pada saat penyerangan oleh tentara Inggris pada tahun 1814 M.

Saat itu, pucuk pimpinan Kerajaan Bone adalah Sultan Muhammad Ismail Muhtajuddin yang memimpin pada tahun 1812-1823. Ia merupakan putera dari Sultan Ahmad al-Salih Syamsuddin (memerintah pada tahun 1775-1812).

Manuskrip-manuskrip tersebut berkaitan dengan tema-tema keagamaan, sejarah, sastra dan tulisan-tulisan raja atau sultan. Ada sebelas manuskrip tentang dokumen pengadilan, empat jilid berisi karya-karya sastra yang diterjemahkan dari bahasa Melayu, termasuk kisah-kisah para pahlawan besar Islam, Hikayat Muhammad Hanafiah di Bugis dan Hikayat Amir Hamzah di Makassar, percintaan Hikayat Isma Yatim dan Hikayat Cekel Wanengpati dalam bahasa Bugis, kisah petualangan pangeran Jawa bernama Panji dalam versi Melayu.

Selain itu, ada juga beberapa jilid manuskrip yang berisi puisi-puisi berbahasa Bugis dan Makassar, risalah tentang hal-hal meriam, medis, pertanian dan astronomi, termasuk manuskrip tentang pembuatan meriam oleh Portugis pada abad ke 17 yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Bugis dan Makassar.

Dari beberapa manuskrip yang berhasil didigitalisasi ada beberapa jilid manuskrip yang menarik, yaitu tentang perjanjian Bugis tentang sufi dan mistik. Salah satu hal menarik dalam manuskrip ini adalah dijelaskannya waktu shalat dengan gambar dan beberapa keterangan yang dituliskan dengan aksara Bugis.

Manuskrip tentang keagamaan yang lain adalah kitab fikih berbahasa Arab Minhajut Thalibin karya an-Nawawi, yang diberi catatan berbahasa bugis, serta beberapa manuskrip yang merupakan terjemahan dari bahasa Melayu ke bahasa Bugis, di antaranya adalah kitab Akhbar al- Arifin yang ditulis oleh Syekh Nuruddin al-Raniri di Aceh pada abad ke-17.

Diharapkan digitalisasi naskah-naskah ini akan menghasilkan lebih banyak studi, dan apresiasi yang lebih baik terhadap tradisi penulisan manuskrip kuno yang ditemukan di Sulawesi Selatan.

Sumber: islami.co

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: