Gus Mus Pimpin Diskusi Lintas Generasi NU di Pati

Metroislam.id – Musytasyar PBNU KH A Musthofa Bisri memimpin diskusi tokoh lintas generasi Nahdliyin (sebutan warga NU) di Pesantren Raudlatul Thahiriyyah, Kajen, Margoyoso, Pati, Jawa Tengah, Sabtu (11/1). Sejumlah tokoh merupakan pengurus PBNU dan pengurus banom NU. Pertemuan itu disebut Majma Buhuts an-Nahdliyyah (Forum Kajian Ke-NU-an).

Dalam sebuah video pendek yang dipublikasikan oleh akun Kampung YouTube yang tayang semalam, tampak Gus Baha’ sedang memaparkan pandangannya tentang pemikiran moderat dan toleran. “Kita yang sedang saleh, bisa saja su’ul khatimah. Atau juga ketika melihat orang lain yang sedang fasiq bisa saja khusnul khatimah. Dengan perspektif itu orang otomatis toleran,” kata Gus Baha’.

“Tapi bukan karena kita berpikir sangat liberal atau meninggalkan syariat. Nah, pemikiran model begini jika dipakai teman-teman NU itu relatif diterima (masyarakat) karena ta’bir-nya ada (dalam kitab-kitab kuning) seperti Ihya’ dan Bidayah,” sambungnya.

Menurut pria bernama lengkap Bahauddin Nursalim ini, dengan seperti itu kita kayaknya lebih mudah. Daripada memaksakan pemikiran-pemikiran yang dianggap terlalu Barat, misalnya, itu hak masing-masing atau karena kita cuek.

“Kita menjadi keras itu tadi. Misalnya, karena politik indentitas. Ini ndak qunut pasti wahabi. Tapi kalau kita mengakui madzahibul arba’ah, mestinya kan biasa saja melihat perbedaan itu, apalagi karena kitabnya juga masih cukup untuk menganalisis,” paparnya.

Dalam kesempatan yang sama, Koordinator Seknas Gusdurian Alissa Qothrunnada Munawaroh (Alissa Wahid) berharap, Majma Buhuts an-Nahdliyyah yang digelar di pesantren asuhan KH Muadz Thohir ini ke depan memberi ruang lebih kepada kalangan alimat (ulama perempuan) dan tokoh perempuan.

“Tentu, saya dan Bu Nyai Hindun Nuruddin sudah menyampaikan langsung kepada KH Mustofa Bisri untuk menambah tokoh-tokoh perempuan NU untuk sesi selanjutnya,” tulis Alissa di akun Facebook Alissa Q Wahid.

Dalam catatan putri sulung Gus Dur ini, Majma Buhuts an-Nahdliyyah digelar tiga tahun silam di Leteh Rembang Jawa Tengah. Saat itu, hadir pula kiai sepuh KH Maemoen Zubair. “Hari ini tanpa Mbah Maimoen Zubair,” tulisnya lagi dengan emoticon sedih.

“Saya sadar betul, saya sungguh beruntung. Ngaji kepada Mbah Maimoen Zubair, Gus Mus, dan poro sepuh lain,” dalam statusnya di akun Alissa Q Wahid tertanggal 10 Januari 2017 yang ia bagikan kembali.

Dari penelusuran NU Online, hadir dalam pertemuan tersebut sejumlah tokoh seperti dai kondang Gus Muwaffiq, dai viral Gus Baha’, pengasuh ngaji online Gus Ulil, kiai muda Abdul Moqsith Ghazali, Rumadi Ahmad dan Marzuki Wahid (PP Lakpesdam PBNU), mantan Waketum PBNU KH As’ad Said Ali, Alissa Wahid, dan Direktur NU Online Savic Ali. Dalam forum tersebut, di antaranya dibahas tentang masa depan NU menjelang usianya ke-100 atau 1 abad.

Dari Pati sendiri, tampak hadir Ketua PP RMI KH A Ghaffar Rozin, KH Muadz Thohir, KH Nuruddin Amin, KH A Ghafur Maemoen, dan sejumlah ulama muda dari eks Karesidenan Pati. Dari kalangan perempuan, Nyai Hj Hindun Anisah Nuruddin (Angggota DPD RI), Ning Tutik Nurul Jannah, Ning Ienas Tsuroiya, dan lain-lain.

Sumber: NU Online

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: