Kebohongan Trump Soal Mendukung Rakyat Iran

Metroislam.id – Amerika Serikat mengobarkan permusuhan terhadap Iran setelah kemenangan Revolusi Islam. Permusuhan AS terhadap Iran dan rakyatnya memasuki babak baru yang belum pernah terjadi sebelumnya sejak Donald Trump berkuasa.

Trump tanpa rasa malu sedikit pun, mengaku mendukung rakyat Iran. Padahal, rakyat Iran berada di bawah sanksi yang paling keras setelah ia menjalankan kebijakan tekanan maksimum terhadap Tehran.

Mengomentari perkumpulan massa di Tehran untuk menyampaikan solidaritas dengan keluarga korban insiden jatuhnya pesawat Ukraina, Trump lewat sebuah tweet dengan bahasa Persia menulis, “Saya telah mendukung Anda sejak awal kepresidenan saya dan pemerintahan saya akan terus mendukung Anda. Kami mengikuti aksi protes Anda dengan cermat dan keberanian Anda menginspirasi.”

Para pemimpin AS termasuk Jimmy Carter, telah menunjukkan permusuhannya terhadap Iran dengan caranya masing-masing. Tindakan konfrontatif ini mencakup aksi kudeta di Iran, dukungan intelijen dan logistik kepada rezim Baath Irak selama perang yang dipaksakan, dan penerapan berbagai sanksi terhadap Republik Islam.

Pemerintahan Trump telah mengobarkan permusuhan ini ke tingkat maksimal. Dalam sebuah tindakan ilegal dan terorisme, ia memerintahkan pembunuhan Komandan Pasukan Quds Iran, Letnan Jenderal Qasem Soleimani dan rekan-rekannya di Bandara Internasional Baghdad, Irak.

Trump dan para pembantunya termasuk Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo, dengan penuh kelancangan, menuding Letjen Soleimani sebagai teroris, bukan seorang pahlawan.

Namun, rakyat Iran pada upacara tasyi’ jenazah Letjen Soleimani dan rekan-rekannya, menunjukkan bahwa mereka tidak peduli dengan bualan Trump dan justru sebaliknya, mereka menganggap pemerintahan Trump sebagai pemerintahan teroris.

Trump terus mengumumkan sanksi-sanksi baru terhadap Iran dan mengklaim pihaknya menghormati hak asasi manusia dalam menerapkan sanksi. Namun, sekarang tampak jelas bahwa mereka sama sekali tidak peduli dengan masalah HAM.

Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif mengatakan, “Presiden AS berbicara tentang perang ekonomi, tapi saya menyebutnya sebagai terorisme ekonomi, karena ia menargetkan masyarakat biasa.”

Departemen Keuangan AS pada Desember 2019, mengakui bahwa salah satu tujuan sanksi baru terhadap sektor perkapalan Iran adalah untuk menciptakan pembatasan dalam perdagangan barang-barang kemanusiaan dengan Iran.

Sebelumnya, para pejabat Washington mengklaim bahwa bahan pangan dan obat-obatan dikecualikan dari sanksi. Mereka sekarang terang-terangan memperketat sanksi terhadap rakyat Iran dan membatasi akses mereka ke bahan pangan dan obat-obatan.

Salah satu tindakan anti-kemanusiaan AS adalah membatasi akses warga Iran terhadap obat-obatan untuk pasien dengan penyakit kronis. Menurut laporan situs SRF Swiss, AS telah menjatuhkan sanksi terhadap semua pihak yang terlibat bisnis dengan Iran, namun tindakan ini menyebabkan kekurangan obat-obatan dan pangan di Iran dan membahayakan kehidupan banyak orang khususnya pasien kanker.

Dalam situasi seperti itu, Trump kembali mengulangi klaimnya tentang dukungan kepada rakyat Iran. Padahal, ia sendiri adalah penyebab rentetan peristiwa yang menyebabkan jatuhnya pesawat Ukraina.

Sumber: parstoday.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: