Protes Anti-Rasisme Terus Berlanjut, AS Lakukan Darurat Militer

Metroislam.id – Bentrokan antara aparat keamanan dengan demonstran yang memprotes pembunuhan warga kulit hitam oleh polisi Amerika Serikat terus berlangsung, dan di beberapa kota besar Amerika sudah diberlakukan kondisi darurat militer dan jam malam.

Kematian George di tangan polisi ini pun memicu kemarahan publik, khususnya warga kulit hitam.  Mereka yang berang terhadap perlakuan polisi yang rasis, mulai turun ke jalan dan berdemonstrasi, meminta pertanggungjawaban atas kasus pembunuhan tersebut.

Empat oknum polisi Derek Chauvin, Tou Thao, Thomas Lane, dab J. Alexander Kueng yang bertanggung jawab atas kematian George memang dipecat keesokan harinya. Namun, mereka masih bebas berkeliaran. Saudara George menuntut agar para tersangka dihukum atas pembunuhan.

Protes melanda sejumlah kota besar Amerika pada Kamis (28/5/2020), dengan kerumunan turun ke jalan untuk menuntut tindakan kebrutalan polisi dan pertanggungjawaban atas beberapa kematian warga kulit hitam di tangan mereka.

Minneapolis dan St. Paul di Minnesota, dipenuhi oleh protes besar. Di St. Paul, para pemrotes berhadapan dengan polisi anti huru hara yang menyemprotkan gas air mata. Menurut keterangan poisi, lebih dari 170 bisnis ikut dirusak dan dijarah.

Di Minneapolis, ribuan pengunjuk rasa mengepung sebuah kantor polisi dan membakarnya. Mereka menyemprotkan cat pada sisi-sisi bangunan, mencoba memanjatnya, dan bersorak saat nyala api menyelimuti bangunan itu.

Semua staf di dalam telah dievakuasi sebelum kebakaran, dan lebih dari 500 tentara dari Minnesota National Guard dikirim untuk menetralkan keadaan di Minneapolis dan St. Paul.

Sedangkan di Memphis, Tennessee, pengunjuk rasa berbaris melalui tengah kota selama beberapa jam. Mereka mengangkat tulisan yang menuntut keadilan bagi beberapa orang kulit hitam Amerika terbunuh belum lama ini, yakni George Floyd, Ahmaud Arbery, dan Breonna Taylor.

Protes juga meningkat menjadi kekerasan di Louisville, Kentucky, tempat Breonna Taylor tinggal dan ditembak mati oleh polisi pada bulan Maret lalu. Penasihat khusus polisi Jessie Halladay mengatakan polisi menembakkan tembakan di tengah kerumunan selama protes tersebut. Protes juga terjadi di kota-kota lain seperti Denver, Colorado, dan Phoenix, Arizona.

Baca: Aksi Protes Anti-Rasisme Ubah AS Jadi Medan Perang

Fars News (31/5/2020) melaporkan, meningkatnya kerusuhan di Los Angeles, Philadelphia, Atlanta dan Denver membuat para walikota dipaksa untuk menerapkan darurat militer di kota-kota mereka.

Sebagaimana ditulis Associated Press, Walikota Los Angeles, Philadelphia, Atlanta, dan Denver menyebut langkah tersebut sangat tidak normal dan ekstrem.

Mereka mengatakan, karena kekerasan terus meningkat, dan situasi tidak stabil di kota kami, kami dipaksa menerapkan jam malam dan darurat militer.
Di Los Angeles, para demonstran menggelar aksi besar-besaran di sejumlah lokasi kota, dan terlibat bentrok dengan polisi.

Para demonstran yang terlibat bentrok fisik dengan aparat keamanan, juga membakar kendaraan polisi. Steve Herman, wartawan Voice of America mengunggah sejumlah foto kejadian di kota Philandelphia, Los Angeles, Chicago, New York, Cleveland, San Diego, Illinois, Washington, dan Tallahassee.

Baca: Minneapolis Membara, Trump Perintahkan Tembaki Demonstran Kasus Pembunuhan Orang Kulit Hitam

Di akun Twitternya, Herman menulis, api pertempuran membara di seluruh Amerika.

Saksi mata di kota Pittsburgh mengabarkan, selama kerusuhan yang terjadi beberapa jam terakhir, beberapa personil polisi terluka, dan di kota ini sudah diberlakukan darurat militer. (MI/parstoday)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: