Mengenal Organisasi Penyuplai Jihadis (Teroris) di Indonesia (Selesai)

Metroislam.id – JAT mulai goyah ketika muncul kelompok Islamic State in Iraq and Syiria (ISIS), di Timur Tengah. Kelompok ini telah menguasai kawasan luas di perbatasan Irak dan Suriah. Kelompok ini bermula dari Jamaah Tauhid Wal Jihad, di bawah kepemimpinan Abu Musab Al-Zarqawi. Zarqawi adalah murid Abu Muhammad Al-Maqdisi. Ajaran Al-Maqdisi telah lama menyebar di Indonesia melalui penerjemahan buku yang dilakukan oleh Aman Abdurrahman. Aman Abdurrahman juga mendirikan kelompok yang bernama Jamaah Tauhid Wal Jihad yang beroperasi di sekitar Cimanggis, Depok, Jawa Barat.

Ketika ditangkap pada 2010 karena keterlibatannya dalam kasus pelatihan militer di Aceh, Aman Abdurrahman dan para narapidana kasus ini berkumpul dalam satu penjara di Cipinang, Jakarta Timur. Di sinilah terjadi pertemuan yang intens. Aman Abdurrahman berhasil mempengaruhi anggota-anggota JAT yang dekat dengannya. Ketika Aman Abdurrahman dipindahkan ke Pulau Nusakambangan, Jawa Tengah, dia berhasil mempengaruhi sebagian narapidana kasus terorisme. Di sinilah pengaruh Aman Abdurrahman kemudian membuat Abu Bakar Baasyir yang saat itu dipenjara di tempat yang sama menemukan momentumnya. Orang-orang di sekitar Abu Bakar Baasyir sudah percaya dengan semua pernyataan Aman Abdurrahman.

Baca: Mengenal Organisasi Penyuplai Jihadis (Teroris) di Indonesia (Bag. 1)

Ketika ISIS mendeklarasikan diri sebagai Daulah Islamiyah atau Islamic State (IS), dengan penuh kesadaran Abu Bakar Baasyir memberikan dukungan dalam bentuk baiat (sumpah setia) kepada organisasi teroris itu. Para pengikut Abu Bakar Baasyir di lingkungan JAT terbelah. Sebagian mengikuti langkah pemimpinnya, memberi dukungan terhadap IS. Tetapi tidak sedikit yang kemudian menolak, dan mendirikan organisasi baru. Termasuk di antaranya adalah anak Abu Bakar Baasyir, ustadz Abdurrahim yang bersama eks anggota JAT lain yang tidak setuju IS, mendirikan Jamaah Anshorus Syariah (JAS).

Para pendukung Abu Bakar Baasyir kemudian melakukan aktifitas sesuai dengan instruksi IS. Setidaknya terdapat beberapa faksi pendukung IS di Indonesia. FAKSI, Al-Muhajirun, JAT, dan lainnya. Berbagai faksi pendukung IS ini kemudian mengerucut menjadi dua kelompok, Jamaah Anshorut Daulah (JAD) dan Jamaah Anshorul Khilafah (JAK).

Sebagai pendukung IS, anggota JAT yang setia dengan Abu Bakar Baasyir mengirimkan anggota-anggotanya yang telah siap ke medan jihad di Timur Tengah. Selain ke Timur Tengah bergabung dengan IS pusat, anggotanya juga dikirim ke daerah Poso, di Sulawesi tengah, guna mendukung Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Santoso. Beberapa anggota JAT di Bima dilaporkan menyerang aparat kepolisian.

Baca: Polsek Daha Selatan Diserang Simpatisan ISIS, Satu Polisi Tewas Ditebas Samurai

Dinamika JAT ini menjadi salah satu pemicu mengapa para pelaku aksis terorisme belakanan lebih banyak menyasar aparat keamanan dibanding dengan simbol-simbol Barat seperti pada awal tahun 2000-an. Penangkapan para pemimpin JAT dan tindakan represif aparat kepolisian merupakan faktor pendukung penting kebencian terhadap aparat dan pemerintah Indonesia. Teologi kebencian yang diajarkan Abu Bakar Baasyir, diperbarui dengan teologi yang lebih segar dan radikal, menemukan tempat persemaiannya. JAT berubah dari organisasi yang bertujuan menegakkan syariat melalui metode dakwah wal jihad dalam naungan ajaran amar nahi munkar yang bersifat terbuka dengan memanfaat instrumen demokrasi menjadi organisasi yang pemimpin dan anggotanya terlibat dalam aksi kekerasan dan terorisme. (MI/islami)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: