Selamanya Bersama Ramadhan

Metroislam.id – Tujuan akhir Ramadhan, khususnya ibadah puasa, adalah agar orang-orang beriman menjadi orang-orang yang bertakwa. (QS al-Baqarah: 183).

Takwa itu adalah sebuah proses yang perlu terus-menerus kita latih dan tekuni setiap hari. Buah ibadah puasa khususnya maupun seluruh rangkaian ibadah Ramadhan pada umumnya justru akan terlihat setelah Ramadhan itu pergi.

Karena itu, selayaknya setelah Idul Fitri tiba hingga Ramadhan tahun berikutnya, orang yang beriman terus menjaga dan meningkatkan amaliah Ramadhan.

Pertama, menjaga shalat farhdu yang lima waktu di awal waktu dan sedapat mungkin berjamaah. “Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) Subuh. Sesungguhnya, shalat Subuh itu disaksikan (oleh malaikat).” (QS al-Isra: 78). Menurut Tafsir Ibnu Katsir, ayat ini merupakan perintah untuk menjaga shalat fardhu yang lima waktu.

Kedua, menjaga shalat-shalat sunah, baik shalat sunah rawatib (sebelum dan sesudah shalat fardhu), shalat Dhuha, maupun shalat Tahajud. “Dan pada sebagian malam hari, shalat Tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Rabb-mu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” (QS al-Israa’: 79).

Baca: Bincang Rumi: Berbaik Sangka dan Tak Mesti Sama

Ketiga, merutinkan tadabur Quran. Tak sekadar membaca Alquran, tapi juga membaca arti, bahkan tafsirnya.

Keempat, merutinkan puasa sunah. Masih ada waktu sekitar dua minggu untuk melakukan puasa Syawal. Kata Nabi, “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR Muslim).

Kemudian puasa Senin-Kamis dan puasa Ayyamul Bidh (tiap tanggal 13, 14, dan 15 bulan Hijriyah). “Rasulullah SAW biasa menaruh pilihan berpuasa pada hari Senin dan Kamis.” (HR Nasai dan Ibnu Majah). “Puasa pada tiga hari setiap bulannya adalah seperti puasa sepanjang tahun.” (HR Bukhari).

Kelima, merutinkan sedekah, baik saat lapang maupun sempit rezeki. “Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya.” (QS ath-Thalaq: 7).

Keenam, menjaga kebersihan hati dari segala sifat yang buruk, seperti iri hati, dengki, sombong, ujub, riya, bakil, pemarah, pemalas, dan suka membicarakan orang lain.

Baca: Sayyid Ali Khamenei: Haram Hukumnya Caci Maki Aisyah RA

Ketujuh, Ramadhan mengajarkan kepada kaum mukminin untuk menjadi orang-orang yang produktif. Puasa bukan halangan untuk melakukan aktivitas dan meraih produktivitas terbaik. Sejumlah peperangan di zaman Rasulullah berlangsung pada bulan Ramadhan.

Ramadhan menyapa kita hanya selama satu bulan dalam setahun. Namun, semoga kita termasuk hamba-hamba-Nya yang selamanya bersama Ramadhan. Sepanjang tahun. Hingga akhir hayat kita. (MI/irwan kelana)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: