Rezim Zionis Israel Mengaku Dibantu UEA dan Arab Saudi

Metroislam.id – Duta besar dan perwakilan tetap rezim pendudukan untuk PBB mengakui bahwa salah satu negara Arab di Teluk Persia telah membantu pemerintahannya dalam memerangi pandemik covid-19.

Qatar Al Jazeera melaporkan bahwa Danny Danon mengatakan pada hari Rabu, tanpa menyebut nama negara itu, bahwa negara Arab telah membantu rezim Israel dalam pembelian peralatan medis untuk menangani wabah corona.

Meskipun pejabat Zionis itu tidak menyebutkan nama negara yang membantu Zionis, para pejabat Uni Emirat Arab berkomentar tentang normalisasi hubungan dengan Tel Aviv selama sebulan terakhir dan mengirimkan dua pengiriman bantuan medis yang “katanya” ditujukan kepada Otoritas Nasional Palestina melalui Bandara Ben-Gurion Israel, dan dari hal ini sangat dimungkinkan bahwa negara yang membantu Israe itu adalah UEA.

Interaksi semacam ini dan cara bantuan medis yang dikirim oleh UEA telah mengecewakan para pejabat Palestina di Tepi Barat; Karena sebenarnya UEA dapat mengirimkan bantuan mereka melewati Yordania daripada mengirim bantuan melalui Zionis. Palestina melihat langkah UEA sebagai tanda normalisasi hubungan Abu Dhabi dengan Tel Aviv.

Baca: Menlu Retno Kembali Serukan OKI Bersatu Tolak Aneksasi Tepi Barat Palestina oleh Zionis Israel

Sebuah cuitan di akun Twitter milik Kedutaan Besar (Kedubes) Arab Saudi untuk Amerika Serikat (AS) di Washington telah membangkitkan polemik luas di media sosial Arab, karena cuitan itu tak ubahnya dengan pengakuan resmi Saudi untuk pertama kalinya dalam menggalang normalisasi hubungan Arab dengan Rezim Zionis Israel.

Akun “Arabia Now” milik kedubes Saudi tersebut dalam sebuah postingannya menyebutkan bahwa Kabinet Arab Saudi menyetujui perusahaan Check Point milik Israel untuk menerima misi pengaturan sistem informasi dalam Proyek NEOM yang dicanangkan oleh Pangeran Mahkota Saudi Mohammed bin Salman.

Aktivis media sosial Saudi pengguna akun ternama “mujtahidd” menyatakan bahwa statemen dari Kedubes Saudi itu dalam waktu dekat akan disusul dengan pernyataan-pernyataan resmi selanjutnya dari pihak-pihak lain yang lebih merepresentasikan otoritas Saudi.

Sementara itu, mengenai rencana Israel menganeksasi beberapa bagian wilayah pendudukan Tepi Barat, Menteri Luar Negeri Saudi Pangeran Faisal bin Farhan menyebutnya sebagai “eskalasi berbahaya” yang mengancam proses perdamaian Israel-Palestina.

Baca: Hizbullah dan Gerakan Amal: Muqawamah Lebih Dibutuhkan dari Sebelumnya

Kepada para menteri luar negeri pada pertemuan Organisasi Kerjasama Islam (OKI) untuk membahas tanggapan atas rencana aneksasi tersebut, Faisal mengatakan bahwa rencana yang diumumkan oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu itu merupakan “eskalasi berbahaya yang mengancam peluang untuk melanjutkan kembali proses perdamaian untuk mencapai keamanan dan stabilitas di kawasan, dan karena itu Saudi mengecam dan menolaknya. (MI/beritadunia)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: