Menuntut Keadilan Rasial di Amerika

Metroislam.id – Sepanjang sejarah Amerika Serikat, warga kulit hitam menjadi sasaran kekerasan dan bahkan pembunuhan oleh polisi negara ini. Kali ini George Floyd menjadi korbannya. Kekerasan dan pembunuhan terhadap warga kulit hitam ini telah memicu unjuk rasa luas di berbagai kota.

George Floyd, 46 tahun, tewas usai lehernya ditekan oleh lutut Derek Chauvin, salah satu dari empat polisi Minneapolis yang menahannya pada Senin (25/5/2020). Tak lama setelah itu, Minneapolis dan St. Paul di Minnesota, dipenuhi oleh protes besar.

Di St. Paul, para pemrotes berhadapan dengan polisi anti huru hara yang menyemprotkan gas air mata. Menurut keterangan poisi, lebih dari 170 bisnis ikut dirusak dan dijarah.

Di Minneapolis, ribuan pengunjuk rasa mengepung sebuah kantor polisi dan membakarnya. Mereka menyemprotkan cat pada sisi-sisi bangunan, mencoba memanjatnya, dan bersorak saat nyala api menyelimuti bangunan itu.

Semua staf di dalam telah dievakuasi sebelum kebakaran, dan lebih dari 500 tentara dari Minnesota National Guard dikirim untuk menetralkan keadaan di Minneapolis dan St. Paul.

Baca: “I Can’t Breathe”; 500 Tahun Rasisme di Amerika (Selesai)

Unjuk rasa anti-rasisme juga meluas ke berbagai kota lainnya, termasuk di Memphis, Tennessee, Louisville Kentucky, Denver, Colorado, dan Phoenix dan Arizona. Para pengunjuk rasa mengangkat tulisan yang menuntut keadilan bagi beberapa orang kulit hitam Amerika terbunuh belum lama ini, yakni George Floyd, Ahmaud Arbery, dan Breonna Taylor.

Unjuk rasa kian hari menyebar ke kota-kota besar seperti New York dan lain-lain. Sebelum ini, beberapa warga kulit hitam tewas mengenaskan di tangan polisi Amerika. Di antaranya adalah Manuel Ellis yang tewas di tangan polisi pada tanggal 3 Maret. Pria ini dilaporkan sempat memohon dan mengatakan dia tidak bisa bernapas sebelum tewas di tangan polisi yang menangkapnya.

Pada tanggal 23 Februari, Ahmaud Arbery 26 tahun ditembak mati oleh Gregory McMichael, 64 tahun, dan Travis McMichael, 34 tahun, dua polisi dan detektif di kejaksaan di negara bagian Georgia, Amerika Serikat.

Pada tahun 2016, ratusan orang berkumpul di lokasi seorang pria berkulit hitam yang sudah tidak berdaya ditembak oleh polisi di Baton Rouge, Louisiana, Amerika Serikat. Korban bernama Alton Sterling tewas ditembak pada 5 Juli 2016 setelah dijatuhkan oleh dua orang polisi.

Walter Scott, seorang pria kulit hitam berumur 50, ditembak tiga kali di punggung selagi lari dari petugas polisi Michael Slagger di North Charleston, South Carolina pada 4 April 2015. Polisi menyetop mobil Scott karena lampu remnya tidak berfungsi.

Eric Garner tewas karena tak bisa bernapas di New York sesudah ia ditahan atas dugaan menjual rokok ketengan secara ilegal pada 17 Juli 2014.

Tamir Rice, bocah Afrika-Amerika berusia 12 tahun, ditembak polisi kulit putih hanya karena membawa senjata mainan.

Baca: Amerika 2020; Anti-Rasis Adalah Teroris Sedang Rasis Adalah Presiden

Di Baltimore, Maryland, Freddie Gray, 25 tahun, ditahan karena membawa senjata setelah polisi menemukan pisau di sakunya pada 12 April 2015 dan akhirnya dia tewas di tangan polisi.

Michael Brown, remaja kulit hitam berusia 18 tahun ditembak mati sesudah pertengkaran dengan polisi kulit putih Darren Wilson pada 9 Agustus 2014. (MI/parstoday)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: