Rahasia Peci Hitam dan Kemeja Putih Gus Baha yang Tidak Banyak Orang Tahu

Metroislam.id – Siapa yang tidak kenal dengan Gus Baha. Ceramah dari ulama yang bernama asli KH Ahmad Bahauddin Nursalim ini tersebar di internet.

Mulai di Youtube, Facebook, dan berbagai aplikasi media sosial lainnya. Meski berpenampilan sederhana, Gus Baha bukan orang ecek-ecek secara keilmuan.

Ia telah selesai menghafal Al Quran sejak masih kecil. Kakek buyutnya dikenal sebagai ulama ahli Quran dan qiraat.

Saat remaja, ia mondok di Pondok Pesantren (PP) Al Anwar, Sarang, Rembang, yang diasuh KH Maimoen Zubair atau yang biasa disapa Mbah Moen.

Saat di Sarang itulah kealiman Gus Baha di bidang agama makin mumpuni. Ia mengusai tafsir, hadits, fikih, dan Bahasa Arab. Banyak kitab-kitab klasik yang telah dikuasainya.

Meski demikian, di berbagai pengajian yang ia hadiri, Gus Baha tetap berpenampilan sederhana.

Ia selalu memakai kemeja putih lengan panjang dan peci hitam yang sering dipakai agak miring ke belakang. Khas penampilan santri, walau bukan berstatus santri lagi.

Mengenai kemeja putih lengan panjang dan peci hitam itu, ada rahasia tersendiri yang dimiliki oleh Gus Baha.

Dalam video ceramah yang diunggah channel Youtube Santri Nusantara pada 11 Oktober 2019, yang dikutip PORTAL JEMBER pada Jumat 3 Juli 2020, terungkap alasan mengapa Gus Baha selalu mengenakan kemeja putih lengan panjang dan peci hitam.

“Soal peci hitam ini saya ‘korban’ ijtihad,” katanya, disambut tawa para jamaah pengajian.

Saat di Sarang, ketika berstatus sebagai santri, ia pernah mengenakan peci putih. Lalu, dipanggil Mbah Moen.

“Ha, kok kamu pakai peci putih? Itu peci buat orang haji. Di desa-desa itu orang supaya bisa pakai peci putih harus jual sawah, kebun, tanah agar bisa haji. Ini kamu peci lima ribuan bikin orang desa sakit hati.

Sakit hati kan dosa. Berarti kalau saya pakai peci putih, bikin dosa? Akhirnya keterusan pakai peci hitam walaupun saya sudah haji,” tuturnya, kembali disambut tawa para jamaah pengajian.

Di PP Al Anwar, kata dia, yang memakai peci putih biasanya kiai dan habaib.

Tetapi, Gus Baha mengakui bahwa di pesantren yang lain justru santri dianjurkan memakai peci putih. Seperti di KH Hamid Pasuruan, Sidogiri, atau Lirboyo, Kediri.

“Karena memang teks hadits Nabi memakai putih. Sehingga, saya pun agar tetap ikut sunnah Nabi, kemeja saja selalu putih,” kata Gus Baha.

Tetapi, ia mengakui bahwa suatu saat tetap akan memakai kemeja selain putih. Misalnya batik. “Karena kalau semua orang alim pakai baju putih, khawatirnya itu akan dianggap sebagai kewajiban,” katanya.

Source: www.portaljember.pikiran-rakyat.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: