Benarkah Rumah Sakit Gemar Mengcovidkan Pasien?

Metroislam.id – Pandemi Covid-19 belum menunjukkan tanda-tanda membaik. Hari-hari belakangan, angka kasus terkonfirmasi harian kerap mencapai lebih dari 4.000 kasus. Di tengah keterbatasan tracing atau pelacakan, serta minimnya pelaksanaan tes swab, sangat mungkin banyak orang yang telah terpapar virus SARS-Cov2 dengan beragam spektrum gejalanya tapi belum terkonfirmasi.

Para pakar menyerukan 3 pilar yang mesti diupayakan untuk menekan laju pandemi: test, tracing, dan treatment. Ketiga hal itu diikuti pula peran publik untuk memakai masker dengan benar, mencuci tangan, serta menjaga jarak dari kerumunan.

Kasus terkonfirmasi telah merebak di seluruh Indonesia. Terlebih di Pulau Jawa, visualisasi data yang dirilis banyak gerakan masyarakat seperti Kawal Covid maupun Lapor Covid menunjukkan bahwa seluruh area Jawa, telah memerah atau menghitam – menunjukkan angka pasien positif yang sangat besar. Kondisi itu menunjukkan bahwa transmisi lokal memungkinkan kita berpeluang terpapar virus ini. Zona dengan angka kasus terkonfirmasi yang lebih rendah juga mesti dicermati dan tidak mengendorkan disiplin, bisa saja itu dari keterbatasan tes PCR yang dilakukan.

Kita semua patut tetap waspada dengan wabah ini. Sayangnya, di tengah kian merebaknya wabah Covid-19, isu yang berkembang di publik semakin liar. Mulai soal isu adanya “mata-mata” yang menggunakan cara tidak menyenangkan, sabotase data, juga ketegangan dengan tradisi dan agama. Banyak mitos dan misinformasi lain yang menambah antipati masyarakat terhadap pelayanan dan penanganan Covid-19 di fasilitas kesehatan.

Salah satu isu yang cukup signifikan dan menjadikan antipati masyarakat terhadap pelayanan kesehatan adalah pernyataan: rumah sakit gemar meng-covid-kan dan menjatuhkan vonis Covid pada pasien. Sehingga mudah kita dengar percakapan “Saya, keluarga atau kerabat berobat ke fasilitas kesehatan ini karena sakit dan keluhan A saja, kok bisa-bisanya dibilang Covid? Pasti RS (rumah sakit) suka meng-covid-kan pasien!” Ditambah dengan embusan kabar bahwa RS maupun tenaga kesehatan dipandang mencari keuntungan sepihak dari penanganan Covid-19 ini, masyarakat menuduh RS dan fasilitas kesehatan memanfaatkan para pasien dengan menetapkan mereka sebagai pasien Covid.

Ada lapis-lapis masalah yang mungkin perlu diperjelas soal diagnosis Covid-19 ini. Namun tulisan ini membatasi pada persoalan penanganan, yang mungkin disinggung dari dua hal. Pertama, kriteria dan skrining yang dipakai di Indonesia. Kedua, tentang penanganannya di fasilitas kesehatan.

Satu hal yang perlu disadari dalam penanganan Covid-19 di Indonesia: tes swab masih terpusat di kota-kota besar, serta pengambilan sampelnya di masyarakat secara langsung sangat minim, apalagi di daerah yang jauh dari pusat kesehatan besar yang lebih memadai. Bisa dikatakan: Covid di Indonesia undertest dan underreport. Sangat mungkin angka masyarakat yang terinfeksi virus SARS Cov-2 lebih besar dari yang tercatat, baik itu tanpa gejala, atau disertai gejala ringan hingga berat.

Penemuan kasus suspect/probable ini sangat penting di fasilitas kesehatan, utamanya di rumah sakit. Karena swab tidak keluar dengan hasil cepat, cara untuk memisahkan orang terduga Covid-19 dan yang tidak adalah melalui skrining. Setiap fasilitas kesehatan memiliki perangkat tersendiri untuk skrining ini. Di RSUD tempat penulis saat ini berkegiatan, ada ceklis panjang untuk mengukur risiko pasien Covid-19 dari segi gejala/keluhan, riwayat kontak, pemeriksaan fisik, maupun pemeriksaan penunjang laboratorium serta radiologi.

Source: www.nu.or.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: