Akhirat Bukanlah “Kelak”, tapi Selalu Sekarang.

Metroislam.id – Kita sering, secara sadar atau tidak, diajar untuk bersabar, yang dimaknai sebagai siap merasa sedih dan sengsara, lalu bertahan dalam kesedihan dan kesengsaraan itu demi mendapatkan pahala kelak.

Seolah dunia dan akhirat adalah bersifat serial: Dunia saat ini berjalan dalam keadaan akhirat belum operatif, alias masih belum aktif. Yakni, nanti ada waktunya dunia berhenti dan akhirat baru mulai operatif. Bahwa dunia itu terpisah dari akhirat.

Saya pikir-pikir ini adalah suatu kesadaran atau pemahaman yang salah. Saya percaya, bahwa kesabaran adalah suatu sikap yang (seharusnya) diambil dengan suka rela, bahkan suka cita, karena kesadaran bahwa dunia ini selalu secara organik beroperasi secara tak terpisah, tak pernah terpisah, dan selalu ber-sama-sama, dengan akhirat. Bahwa kapan pun, dunia adalah bagian dari akhirat.

Bukankah akhirat, tak seperti dunia, bebas dari waktu serial – yang mengandung masa lampau, masa kini, dan masa nanti?

Jadi, kalau pun masa “kelak” itu berlaku atas kehidupan dunia, dia tak berlaku atas kehidupan akhirat. Kehidupan akhirat selalu tak pernah tak operatif, kapan pun. Artinya, selalu bersama operatifnya dunia. Diungkapkan secara lain, dunia selalu operatif bersama akhirat. Tak ada masa di mana dunia tak operatif bersama akhirat.

Dengan kata lain, ketika di dunia ini kita harus bersabar menghadapi kesedihan dan kesengsaraan, efek ukhrawi atas kesabaran itu – berupa pahala kebaikan, yang membahagiakan – sudah langsung bekerja pada saat yang sama.

Jadi, pahala itu selalu bersifat sekarang, bukan “kelak”. Kata “kelak”, karena itu, hanya bersifat i’tibari (tidak real). Bersifat metaforis, untuk  menyatakan semacam mekanisme sebab-akibat, bukan keterdahuluan dan keterbelakangan.

Dan bagi orang yang menyadari bahwa akhirat selalu operatif bersama dunia, maka kesengsaraan itu juga hanya bersifat i’tibari (maya). Artinya, di balik kesedihan dan kesengsaraan itu, sebenarnya ada suka cita. Bahkan, yang real adalah suka cita itu.

Dan perasaan suka cita ini bisa dipahami dengan lebih baik jika kita sadari bahwa di baliknya, di balik segala kejadian, ada “Tangan Tuhan” yang bekerja. Bahwa semuanya itu dipersiapkan oleh Tuhan – Yang Maha Baik, Pemurah, Pencinta, Pengasih, dan Penyayang.

Dan tak ada yang datang dari Tuhan, kecuali kebaikan:

“Dan apa pun yang menimpamu berupa kebaikan, maka itu dari Allah”. Padahal: Bukanlah kita diajar bahwa “tak ada yang menimpa kita kecuali sudah ditetapkan Allah atas kita?”

(Keduanya adalah firman Allah yang merupakan bagian dari surat an-Nisa [4]: 79 dan at-Taubah [9]: 51).

Maka, itu berarti bahwa apa pun yang menimpa kita, pasti baik, karena itu diciptakan atau ditetapkan oleh Tangan Tuhan sendiri.

Jika tak begitu sikap kita, jika kita tak suka cita bahkan atas apa yang di permukaan tampak sebagai kesedihan dan kesengsaraan, maka itu karena kita gagal melihat kerja mekanisme ukhrawi, adanya Tuhan Yang Hidup, Selalu Jaga, dan “setiap saat Dia mengurusi urusan”, serta tak pernah tak baik dalam urusan-Nya, di balik apa yang sepintas tampak menghasilkan kesedihan dan kesengsaraan itu.

Inilah yang dimaksud Tuhan ketika Dia berfirman dalam satu nafas dalam ayat yang sama (QS an-Nisa [4]: 79) dalam Kitab Suci-Nya: … dan apa pun yang menimpamu karena keburukan (yang membuatmu hanya merasa sedih dan sengsara belaka, tanpa melihat pahala suka cita di dalamnya) maka itu berasal dari atau diakibatkan oleh dirimu sendiri.”

Yakni, dari kegagalanmu melihat mekanisme ukhrawi dan Tangan Allah di balik apa yang menimpamu itu. Atau kegagalan – atau setidaknya keterlupaan – dalam hal keimanan kepada Kebaikan, Kecintaan, Kasih dan Sayang-Nya dalam setiap tindakan-Nya.

Beginilah cara para ‘urafa’ dan awliya’ dalam melihat setiap kejadian di dunia. Bagi mereka, telah terungkapkan hakikat bahwa akhirat sudah operatif sekarang. Dan kapan pun. Mereka sudah hidup di akhirat bahkan ketika mereka masih hidup di dunia ini.

Bahwa di balik segala sesuatu, bahkan dalam apa yang tampak sebagai kesedihan dan kesengsaraan itu, ada cinta, Kasih dan Sayang Tuhan di baliknya. Bukankah Nabi-Nya juga sudah mengajarkan kepada kita bahwa: “Jika Allah mencintai seseorang atau suatu kaum, Dia akan mengujinya (dengan kesedihan dan kesengsaraan)”?

Maka ini harus menjadi pelajaran buat kita. Sebagai awam, akan sangat sulit bagi kita untuk mencapai maqam para awliya’ dan ‘urafa’ itu. Tapi, jika kesadaran – meski baru di tingkat rasional (‘aqli) – sudah kita miliki, setidaknya kita bisa mendidik diri kita agar benar-benar dapat menghayati realitas sesungguhnya dari semua kejadian di dunia ini. Meskipun hanya secuil demi secuil, meski pun hanya dengan beringsut.

Semoga Allah Swt selalu memberikan hidayah, tawfiq, dan inayah-Nya kepada kita

Source: www.islamindonesia.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: