Ini Alasan Turki Serukan Boikot Nasional Terhadap Aplikasi Whatsapp

Mulai hari Senin (11/1), kantor tersebut beralih ke aplikasi perpesanan terenkripsi BiP, yang dikembangkan oleh perusahaan Turki Turkcell, lapor Bloomberg, mengutip pesan internal yang diposting ke grup WhatsApp.

Keputusan tersebut diambil di tengah kekhawatiran yang berkembang atas rencana WhatsApp untuk mulai berbagi data pribadi dengan perusahaan induknya, Facebook.

Kebijakan ini mulai berlaku pada 8 Februari, dan pengguna yang menolak persyaratan baru tidak akan dapat mengakses akun mereka di platform perpesanan.

Persyaratan pengguna yang diperbarui telah ditanggapi dengan permusuhan oleh pemerintah Turki, yang telah menggunakan masalah privasi untuk mempromosikan aplikasi dan layanan internet yang dikembangkan sendiri.

Ali Taha Koc, kepala Kantor Transformasi Digital kepresidenan, merilis pernyataan pada hari Sabtu (9/1) di mana dia memperingatkan bahwa aplikasi buatan asing “mengandung risiko signifikan terhadap keamanan data.”

Dia mendesak warga Turki untuk beralih ke “perangkat lunak lokal dan nasional,” mengklaim langkah tersebut akan membantu Turki melindungi datanya.

Seperti yang dikatakan Presiden Recep Tayyip Erdogan, mari kita bersama-sama melawan fasisme digital! dia menyimpulkan.

Sayın Cumhurbaşkanımız @ RTErdogan’ın belirttiği gibi dijital faşizme hep birlikte karşı duralım! pic.twitter.com/CCStMzhIeB – Ali Taha Koç (@AliTahaKoc) 9 Januari 2021

Pesan itu sepertinya beresonansi. Turkcell melaporkan bahwa sekitar satu juta pengguna baru bergabung dengan BiP Messenger dalam 24 jam terakhir. Aplikasi ini telah diunduh lebih dari 53 juta kali sejak diluncurkan pada 2013.

Sementara itu, outlet media Turki telah menyoroti orang-orang terkenal yang telah bergabung dengan eksodus.

Anadolu Agency yang dikelola negara melaporkan bahwa seorang eksekutif senior di Baykar, sebuah perusahaan drone Turki, mengumumkan bahwa dia membatalkan WhatsApp karena kebijakan data barunya dan akan mulai menggunakan BiP.

Erdogan sebelumnya telah memperingatkan tentang “fasisme digital,” dengan alasan bahwa monopoli kontrol data akan menyebabkan bencana bagi dunia.

Dalam pidatonya di bulan November, dia mengatakan bahwa tetap menjadi “manusia” di era digital akan menjadi salah satu tantangan terbesar ke depan.

Namun, pemerintahnya sendiri telah dituduh mengawasi platform media sosial dan situs web untuk pandangan politik yang dianggap tidak baik.

sumber: Islatimes

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: